Beranda > Artikel Pariwisata > Identifikasi Potensi Kawasan Pedesaan Sebagai Kawasan Wisata

Identifikasi Potensi Kawasan Pedesaan Sebagai Kawasan Wisata

Intisari

Sumberdaya kawasan perdesaan yang di dalamnya mencakup sumberdaya fisik, sosial dan budaya ternyata dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. Seringkali masyarakat selaku pemilik atmosfir perdesaan tidak menyadari bila wilayahnya memiliki “nilai” lebih yang tidak dimiliki wilayah lainnya. Sejalan dengan pergeseran pasar wisata ke depan, maka pengembangan kawasan perdesaan sebagai objek wisata yang disertai dengan tahap-tahap identifikasi secara holistik diharapkan dapat dihasilkan profil potensi wisata secara komprehensif sehingga mampu menjadi alternatif wisata untuk melengkapi objek wisata konvensional yang sudah dimiliki sebuah daerah.

 
Pengantar

Pengembangan kawasan pedesaan sebagai salah satu objek wisata patut ditindaklanjuti sejalan pergeseran pola pariwisata dewasa ini. World Tourism Organization, 1995 melaporkan perkembangan pariwisata alternatif yang dipandang menghargai lingkungan alam dan penghargaan kepada kebudayaan. Kenyataan ini telah memicu kesadaran akan pembangunan pariwisata yang berwawasan lingkungan yang merupakan alternative tourism (Smith & Eadington, 1992, Weiler, B, and Hall, 1992). Model pariwisata ini mempertimbangkan pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan untuk generasi mendatang. Termasuk dalam pariwisata alternatif diantaranya green tourism; soft tourism; low impact tourism; eco-tourism; responsible tourism; appropriate tourism; sustainable tourism; dan lain-lain (Hunter & Green, 1995 dalam Marsongko, 1998).

Saat ini kecenderungan wisatawan lebih rasional, self-directed, spesifik dan memiliki karakter yang kurang dapat diprediksi diantaranya individualistik, dan heterogen. Dengan kata lain, fleksibilitas dan kemandirian merupakan hal patut diamati sebagai bagian dari perilaku wisatawan di masa datang. Artinya,  tuntutan dan kepuasan wisatawan tidak hanya bersandar pada keindahan alam dan kelengkapan fasilitas wisata, melainkan pada keleluasaan dan intensitas interaksi dengan lingkungan dan masyarakat lokal.

Orientasi pembangunan kepariwisataan perlu menempatkan fakta di atas sebagai pertimbangan dalam menumbuhkan, membina serta mengembangkan kapasitas dan kapabilitas daerah. Hal ini dilakukan untuk dapat meningkatkan pelayanan sekaligus merealisasikan peran masyarakat dalam kepariwisataan sesuai kemampuan yang dimilikinya.

Desa Wisata atau Wisata Desa ?

Bila ditelusuri pemahaman menyangkut desa wisata cukup beragam. Desa wisata merupakan suatu bentuk lingkungan permukiman yang sesuai dengan tuntutan wisatawan dalam menikmati, mengenal dan menghayati/mempelajari kekhasan desa beserta segala daya tariknya. Sesuai pula dengan tuntutan kegiatan hidup masyarakatnya (mencakup kegiatan hunian, interaksi sosial, kegiatan adat setempat dan sebagainya), sehingga terwujud suatu lingkungan yang harmonis, rekreatif, dan terpadu dengan lingkungannya (Ikaputra, 1985).

Desa wisata merupakan bentuk desa yang memiliki ciri khusus di dalamnya, baik alam dan budaya, serta berpeluang dijadikan komoditi bagi wisatawan. Wujud desa wisata itu sendiri bahwa desa sebagai objek dan subyek pariwisata.  Sebagai objek, merupakan tujuan kegiatan pariwisata, sedangkan sebagai subyek adalah sebagai penyelenggara, apa yang dihasilkan oleh desa akan dinikmati oleh masyarakatnya secara langsung dan peran aktif masyarakat sangat menentukan kelangsungan desa wisata itu sendiri (Soebagyo, 1991).

Dalam kegiatannya, seringkali wisatawan tinggal di dalam atau dekat dengan suasana tradisional dan belajar tentang kehidupan desa dan lingkungan setempat (Inskeep, 1991). Dalam hal ini, ada proses belajar (learning) dari masyarakat (hosts) kepada wisatawan (guests), sehingga para tamu mampu memberikan penghargaan (rewarding) kepada nilai-nilai lokal yang masih dianut oleh komunitas setempat.

Desa wisata berbeda dengan wisata desa (Ahimsa-Putra, 2000).  Desa wisata adalah kawasan pemukiman yang ada di daerah pedesaan, baik secara sengaja ataupun tidak, telah menjadi sebuah kawasan yang menjadi tujuan kunjungan wisatawan karena daya tarik/objek wisata yang ada, dan di desa ini wisatawan dapat menginap. Sedangkan wisata desa yang hanya kunjungan yang berlangsung di daerah pedesaan, namun tidak menginap di daerah tujuan tersebut. Wisatawan tetap tinggal di hotel, di kota sebab masih minimnya fasilitas untuk wisatawan di pedesaan. Persoalan “menginap di desa” inilah yang menjadikan adanya perbedaan antara wisata desa dengan desa wisata. 

Lebih lanjut dijelaskan bila “menginap di desa” menjadi penting sebab kenyataannya length of stay atau lama tinggal adalah ukuran yang selalu dijadikan untuk mengukur kualitas suatu kawasan atau objek wisata (Ahimsa-Putra, 2000). Sebagai suatu bentuk struktur dari kegiatan pariwisata, desa wisata erat kaitannya dengan kegiatan tinggal,menetap di dalam atau dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan, belajar mengenai desa dan budaya lokal serta cara hidup masyarakat serta seringkali turut berpartisipasi dalam aktivitas pedesaan. Dalam perencanaan dan pengembangan serta pengelolaan masyarakat terlibat secara penuh sehingga dengan demikian diharapkan keuntungan dapat diterima oleh penduduk itu sendiri (Basuki, 1992).

Tindakan bijaksana dengan memperhatikan kepentingan serta kondisi lingkungan perlu diperhatikan dalam mengembangkan sebuah desa wisata, khususnya di wilayah yang masih memiliki ikatan serta sifat tradisional. Sebagai model dasar pembentukan sebuah desa wisata, harus memperhatikan pemilihan site dalam merencanakan fasilitas yang hendak digunakan. Perlu koordinasi dengan penduduk serta kerjasama antara mereka sendiri untuk melakukan pengembangan dan pengelolaan serta pemasaran yang efektif. Prinsip penting lainnya dalam pengembangan desa wisata adalah menomersatukan proses pelibatan penduduk setempat dalam tukar gagasan, tindakan, pengambilan keputusan, dan kontrol dalam mengembangkan kegiatan pariwisata pedesaan. Dengan demikian diharapkan dari kegiatan yang lahir nantinya dapat memberikan kerangka kerja yang simboisis mutualisme, saling menguntungkan antara  masyarakat dan wisatawan.

Strategi melibatkan peran serta masyarakat dapat dilakukan antara lain dengan:

  • Menginformasikan kepada penduduk setempat tentang apa yang akan terjadi bila pariwisata pedesaan masuk ke desa mereka;
  • Menjaga dialog dengan dan di antara mereka;
  • Menghargai pendapat dan melibatkan masyarakat setempat dalam pengambilan keputusan;
  • Meningkatkan pemahaman akan hakekat pariwisata dan dampaknya;
  • Mendorong hubungan antar wisatawan dan penduduk setempat;
  • Melindungi masyarakat lokal dari melimpahnya kegiatan pariwisata (ahimsa-putra, dkk, 2000). 

Prinsip penting lainnya yang patut diperhatikan dalam pengembangan desa wisata;

  • Mengembangkan fasilitas-fasilitas wisata dalam skala kecil beserta pelayanannya yang dekat atau di dalam desa itu sendiri,
  • Fasilitas dan pelayanan tersebut dimiliki dan dikerjakan oleh penduduk, secara individu atau bekerjasama,
  • Pengembangan yang didasarkan kepada sifat budaya tradisional suatu desa (human life) atau sifat atraksi yang dekat dengan alam (nature based).

Untuk itu pada beberapa wilayah pedesaan yang telah menjadi bagian dari kegiatan wisata desa perlu diupayakan peningkatan aspek yang telah disebutkan di atas, yakni aspek fisik, sosial dan budaya serta kelembagaannya agar dapat menjadi desa-desa wisata (Ahimsa-Putra, 2000).

Pengembangan Produk Kawasan Pedesan

Produk pariwisata pedesaan mencakup tiga aspek yang dikenal dengan istilah triple A (Atraksi, Amenitas dan Aksesibilitas). Produk pariwisata dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat “dijual” sebagai komoditas pariwisata. Atraksi adalah objek/daya tarik wisata yakni objek yang memiliki daya tarik untuk dilihat, ditonton, dinikmati yang layak “dijual” ke pasar wisata. 

  

 

Secara sederhana produk desa wisata adalah segala macam objek bergerak maupun tidak bergerak yang memiliki daya tarik wisata dan layak ditawarkan, “dijual” kepada wisatawan, baik wisatawan domestik ataupun mancanegara. Objek pariwisata pedesaan beserta segala atraksi yang diperlihatkan merupakan daya tarik utama bagi seseorang untuk berkunjung ke suatu tempat. Untuk itu keaslian dari objek dan atraksi yang disuguhkan tetap harus dipertahankan. Di samping keaslian yang tetap dipertahankan juga perlu dipikirkan variasi objek dan atraksi yang hendak dijual. Di sinilah pentingnya pengembangan produk dibidang pariwisata. Logikanya, keberhasilan pengembangan produk yang dilakukan akan berakibat meningkatnya kunjungan wisatawan yang berimbas pada lama tinggal dan besarnya pengeluaran bagi wisatawan.

Atraksi wisata pedesaan dapat dibedakan dalam dua bentuk, yakni atraksi yang dapat dinikmati atau dicerap panca indra (tangible/material) dan atraksi yang tidak dapat dilihat secara kasat mata (inmaterial/intangible). Dua bentuk ini sebetulnya dapat dikemas secara bersama ataupun berbeda. Contoh atraksi wisata yang dapat dilihat secara konkrit adalah pertunjukan tari, menikmati masakan lokal, melihat bangunan-bangunan khas desa (arsitektur), mengikuti kegiatan bertani di sawah atau mengambil salak di kebun, memetik daun teh dan memprosesnya menjadi teh siap saji yang dapat dilakukan secara mandiri. Serta beberapa contoh atraksi material lainnya yang dapat dilakukan para tamu secara sukarela.

Sedangkan untuk atraksi yang intangible, atau atraksi yang tidak dapat dicerap panca indera antara lain adalah menyimak penuturan seorang sesepuh desa yang menceritakan masa lalu sebuah desa, atau mendengarkan cerita (mitologi) dari keberadaan/asal-muasal yang berkembang di wilayah tertentu. Melalui kegiatan mendengar serta melakukan proses membayangkan (berimajinasi) maka tamu akan mendapatkan sesuatu yang dapat mengisi kekosongan atas sebuah informasi tertentu yang dapat diperolehnya selama melakukan kegiatan wisata di desa.

Di samping atraksi, yang termasuk dalam produk wisata lainnya adalah amenitas yakni segala macam fasilitas yang menunjang kegiatan pariwisata. Dalam kaitannya dengan kegiatan wisata pedesaan sarana amenitas yang diperlukan wisatawan tidak perlu seperti yang terdapat diperkotaan. Bukan sebuah hotel berbintang yang dicari namun justru kesederhanaan seperti hakekat kegiatan wisata pedesaan yakni mengajak tamu untuk live in (tinggal bersama) di sebuah rumah tangga pedesaan. Dengan tinggal bersama maka para tamu dapat melihat dan mengikuti serta melakukan segenap kegiatan seperti halnya empunya rumah sesuai keinginan para tamu yang tentu saja mengikuti sopan santun. Meski demikian beberapa bangunan seperti halnya akomodasi /home stay untuk tempat menginap dapat memanfaatkan bahan lokal ataupun merehab sebagian dari ruangan dengan tanpa membangun baru dari bahan yang mencerminkan ciri kekotaan.

Keberadaan beberapa rumah khas di pedesaan Jawa, seperti joglo, sinom ataupun limas dapat direnovasi dan digunakan untuk sarana menginap para tamu. Adanya bangunan dan ruang-ruang dalam sebuah rumah khas Jawa juga menarik untuk menjadi cerita tersendiri bagi wisatawan. Mereka dapat memilih tidur pada bagian tertentu dari bangunan sehingga dapat merasakan suasana berada di sebuah rumah berarsitektur Jawa.

Sarana lain adalah kamar kecil/mandi. Keberadaan kamar mandi masih menggunakan teknologi sederhana, misalnya dengan kerekan timba (tidak memakai sumur pompa), menggunakan siwur dari bathok kelapa (bukan memakai gayung plastik) untuk kelengkapan mandi merupakan bagian yang menjadi satu dari kegiatan selama live in di rumah tangga pedesaan di Jawa. Meski demikian kebutuhan dan tuntutan untuk menjaga kebersihan kamar tidur, kamar tamu, kamar mandi, dapur, serta saluran limbah tidak boleh diabaikan tuan rumah bila mengharapkan kehadiran tamu untuk menginap tidak hanya sekali namun berkelanjutan. Ini artinya, para pemilik rumah dan khususnya para pengurus desa wisata tidak bosan-bosannya untuk memberikan arahan dan pembinaan agar tumbuh rasa hospitality yang sesuai dengan kemampuan penduduk desa. 

Terakhir untuk produk wisata adalah aksesibilitas, berupa sarana-prasarana yang menyebabkan wisatawan dapat berkunjung di sebuah destinasi (objek). Dalam konteks ini, sarana dan prasarana dibangun agar wisatawan dapat mencapai objek dengan aman, nyaman dan layak. Inilah yang membedakan dengan domain ekonomi yang menyediakan sarana dan prasarana agar produk yang dijual dapat didistribusi sehingga dapat dijangkau konsumen. Sementara domain pariwisata sarana dan prasarana dibangun agar konsumen dapat mengunjungi objek wisata sehingga mereka dapat “membeli” produk tersebut. Dengan demikian aksesibilitas menyebabkan wisatawan mencapai objek wisata dengan mudah, aman dan nyaman/layak.

 

Dari ketiga aspek produk wisata di atas, model pengembangan produk haruslah mempertahankan keasliannya agar dapat bersaing dengan daerah lainnya. Dengan kata lain, masing-masing objek harus memiliki style tersendiri yang berbeda dengan objek wisata lainnya. Style merupakan faktor penting dalam menentukan penjualan. Dalam pariwisata yang dikatakan sebagai product style yang baik adalah

  • daya tarik objek itu sendiri,
  • memiliki perbedaan dengan objek lainnya,
  • dukungan kondisi prasarana yang terpelihara dengan baik,
  • ketersediaan fasilitas “something to see, something to do, & something to buy, dan  dilengkapi dengan sarana prasarana lainnya.

Keberhasilan pengembangan kawasan desa wisata pada sebuah lokasi, selain keberadaan atraksi wisata sebagai produk yang menjadi faktor penarik (pull factors) konsumen untuk mendatangi objek tersebut, juga tidak kalah pentingnya adalah peran dan keberadaan elemen kelembagaan dan sumber daya manusia di dalamnya. Kelembagaan yang terbentuk hendaknya memiliki kompetensi dalam pengelolaan dan pengembangan kepariwisataan.

Tahap Pemetaan Potensi Wisata

Langkah pokok dalam melakukan kajian potensi objek dan daya tarik wisata (ODTW) adalah lewat identifikasi dan ini tidak tidak dapat terlepas dari soal “daya tarik” objek tersebut. Persoalan muncul ketika kita bicara “daya tarik”, maka tidak terlepas pula dari siapa yang melihatnya. Dengan kata lain, “daya tarik” itu relatif sifatnya dan tergantung dari orang yang melihat, dalam hal ini wisatawan. Dengan demikian, menarik tidaknya suatu objek berkait erat dengan latar belakang budaya wisatawan, dan ini perlu diperhatikan pada saat tahap identifikasi objek wisata.

Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan berkenaan dengan daya tarik dari suatu objek wisata. Aspek-aspek ini merupakan sisi-sisi dari suatu objek yang membuatnya dikatakan menarik. Beberapa di antaranya adalah:

(1) keunikan;

Suatu objek wisata biasanya menjadi menarik antara lain karena keunikannya, kekhasannya, keanehannya. Artinya objek ini sulit didapatkan kesamaannya atau tidak ada dalam masyarakat-masyarakat yang lain. Aspek keunikan ini seringkali terkait dengan sejarah dari objek itu sendiri, baik itu sejarah dalam arti yang sebenarnya maupun sejarah dalam arti yang lebih mitologis. Oleh karena itu dalam mengidentifikasi objek-objek wisata aspek keunikan ini perlu diperhatikan, karena ini dapat menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan.

(2) estetika;

Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah aspek keindahan, dan ini merupakan unsur yang paling penting dari suatu objek wisata untuk dapat menarik wisatawan. Aspek keindahan ini sangat perlu diperhatikan dalam proses pengembangan suatu objek wisata. Suatu objek yang tidak unik dapat saja menarik banyak wisatawan karena keindahan yang dimilikinya. Bilamana keindahan ini menjadi sangat menonjol, maka keindahan tersebut kemudian menyatu dengan keunikan, dan membuat objek tersebut semakin menarik.

(3) keagamaan;

Suatu objek wisata bisa saja tidak unik, tidak menarik, namun mempunyai nilai keagamaan yang tinggi. Artinya, objek tersebut dipercaya sebagai objek yang bersifat suci, wingit, atau mempunyai kekuatan supernatural tertentu, yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Aspek keagamaan ini perlu diperhatikan ketika identifikasi dan promosi dilakukan, karena wisatawan tertentu seringkali tertarik oleh hal-hal semacam ini.

(4) ilmiah.

Suatu objek wisata juga dapat menarik banyak wisatawan karena nilai ilmiah atau nilai pengetahuan yang tinggi, yang dimilikinya, walaupun unsur unik, estetis, dan keagamaannya kurang. Namun demikian, nilai ilmiah yang tinggi dari objek wisata tersebut pada dasarnya juga merupakan bagian dari keunikannya. Aspek ilmiah ini juga perlu diperhatikan dalam proses identifikasi, pengembangan dan promosi objek wisata tersebut, karena ini merupakan salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan untuk menarik lebih banyak wisatawan.

Daya tarik sebuah objek wisata akan semakin kuat bilamana berbagai elemen penarik tersebut hadir bersama-sama. Jika tidak, maka dalam proses pengembangan dan promosi elemen-elemen yang masih kurang menonjol hendaknya diperkuat lagi agar objek tersebut mampu menarik wisatawan lebih banyak lagi.
 
Selanjutnya dalam mengidentifikasi suatu objek perlu memperhatikan tiga hal, yakni : 

 (a) kriteria atau patokan yang digunakan dalam identifikasi,
 (b) metode identifikasi, dan
 (c) dokumentasi hasil identifikasi.

Bagian pertama, kriteria identifikasi didasarkan kepada sifat objek yang diidentifikasi. Berdasarkan sifatnya, objek wisata terbagi menjadi dua :

a. objek material (benda)

Sebagai contoh, objek budaya material adalah objek-objek yang mencakup hasil perilaku manusia, seperti rumah, barang kerajinan, ataupun objek alam yang direkayasa manusia.
 
b. objek non material  (aktivitas) 

Objek non material sifatnya lebih mengarah pada aktivitas manusia, baik itu aktivitas yang “biasa” rutin, ataupun yang  “tidak biasa” dan berlangsung karena ada sesuatu atau waktu-waktu yang khusus.
 
Kedua, metode identifikasi objek wisata yang dilakukan seperti halnya ketika melakukan penelitian diantaranya

(a). pengamatan dan survai lapangan,
(b) pengamatan dengan partisipasi observasi, dan
(c) wawancara mendalam. 

Pengamatan dan survai lapangan.
Dilakukan dengan cara mengujungi secara langsung kawasan wisata untuk menentukan hal-hal apa saja yang ada di lokasi tersebut untuk melihat potensi, masalah, dan peluang pengembangannya. Dengan langkah ini maka secara cepat dapat diperoleh gambaran potensi wisata, kendala yang dijumpai di objek tersebut. Namun karena sifatnya yang hanya sebentar tentu tidak semua informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh untuk itu perlu dilengkapi dengan cara yang lain.

Pengamatan dengan partisipasi observasi.
Langkah ini dilakukan dalam waktu relatif lama sebab peneliti dalam beberapa waktu tinggal bersama masyarakat. Makin lama peneliti berada di lapangan akan semakin banyak informasi yang dapat dilihat dan direkamnya. Meski cara ini sudah lebih baik dibandingkan hanya dengan survai lapangan, namun bila hanya melakukan pengamatan maka hal yang diketahui juga terbatas dan dimungkinkan peneliti tidak mengetahui pandangan masyarakat terhadap hal-hal bersinggungan dengan potensi wisata.

Wawancara mendalam. Perlu dilakukan untuk mendapatkan informasi lebih banyak, lebih detail mengenai segenap aspek yang berkait dengan objek wisata. Lewat wawancara maka kita dapat mengetahui pandangan masyarakat terhadap objek-objek tertentu atau peristiwa tertentu. Berbekal pengetahuan yang diberikan warga maka dapat diperkirakan dampak dan keberhasilan model wisata yang hendak dilakukan. 

Tahap ketiga dalam melakukan proses identifikasi adalah dokumentasi hasil identifikasi yang seringkali mempergunakan video, kamera ataupun tulisan.

Video
Keunggulan dari dokumentasi video adalah kemampuannya menyimpan gerak dan suara sekaligus dan kemudian diputar ulang untuk dilihat kembali. Meski demikian, model dokumentasi seperti ini membutuhkan peralatan tertentu dan tidak dapat disimpan dalam bentuk tulisan, oleh karena itu perlu dilengkapi dengan dokumentasi lewat foto. 

Foto
Sementara untuk dokumentasi foto dapat memberikan gambar-gambar yang tidak bergerak dan dapat hadir bersama dengan dokumentasi berbentuk tulisan.

Tulisan
Dokumentasi tulisan merupakan cara yang murah namun memiliki nilai penting sebab dapat mengungkapkan informasi yang tidak terekam dalam dokumentasi video ataupun foto. Dengan demikian, dokumentasi tulisan dan dokumentasi lainnya dapat untuk saling melengkapi. Bila dari dokumentasi video dan foto kita perlu melakukan proses editing agar dapat dinikmati sementara untuk dokumentasi tulisan kita perlu menyusun secara sistematis. Akhirnya lewat cara pendokumentasian yang tepat kita dapat melakukan upaya perencanaan promosi dan pengembangan objek-objek wisata seperti yang diinginkan.

Daftar Pustaka

Ahimsa-Putra, Heddy Shri, 1999, “Perencanaan Pariwisata Budaya”, makalah dalam Bimbingan Teknis Perencanaan Program Kepariwisataan Kepala Dinas Pariwisata Daerah Tingkat II, diselenggarakan Pusat Studi Pariwisata. 

Ahimsa-Putra, Heddy Shri, 2000, “Potensi dan Prospek Pengembangan Desa Wisata Di DI Yogyakarta”, makalah dalam Pembinaan Bagi Pengelola Objek Wisata se DIY, diselenggarakan Dinas Pariwisata Yogyakarta. 

Ahimsa-Putra, Heddy Shri; Ari Sujito, Wiwied Trisnadi., 2000., Pengembangan Model Pariwisata Pedesaan Sebagai Alternatif Pembangunan Berkelanjutan. Puspar-UGM Yogyakarta. Tidak dipublikasikan.

Anonim, 1998., Studi Pengembangan Wisata Minat Khusus. Laporan Akhir Penelitian, Dinas Pariwisata Propinsi DI Yogyakarta.

Basuki, Ari.,1992., Desa Wisata Penglipuran: Suatu Penataan Desa Tradisional di Bali. Tugas Akhir Jurusan Teknik Arsitektur UGM: Yogyakarta.

Ikaputra., 1985., Desa Wisata Kasongan. Tugas Akhir Jurusan Arsitektur UGM : Yogyakarta.

Marsongko, Paramita., 1998.,Sustainable Tourism development : A Case Study of Tourism Development in Karimunjawa Marine national park, ”, Dies Natalis Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung ke-35, Maret

Marsongko, Paramita., 1999., “Re-Orientasi & Rekayasa Bio-Diversity (Green Tourism) Terhadap Pengembangan Produk Wisata”, makalah dalam Diskusi Panel “Pembangunan Kepariwisataan Terhadap Isu Lingkungan”, Dies Natalis Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung ke-35, Maret

Smith & Eadington., 1992., Tourism and Alternatives. University of Pennsylvania Press. Philadelphia.

Soebagyo, 1991.,Desa Wisata di Bali : Tantangan dan Kesempatan, dalam Kertas Kerja PPM/UGM : Yogyakarta.

Weiler and Hall, 1992., Special Interest Tourism, Bellhaven Press: London

Destha T Raharjana (Trainer JTTC) : dtraharjana@gmail.com 

 

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.122 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: