Beranda > Artikel SDM > Etika Komunikasi

Etika Komunikasi

Berbicara tentang definisi komunikasi, tidak ada definisi yang benar ataupun salah, definisi perlu dilihat dari kemanfaatannya untuk menjelaskan fenomena yang dijelaskan dan dievaluasinya. Komunikasi sehingga sering didefinisikan secara luas sebagai “berbagi pengalaman” antara seseorang dengan yang lainnya. Dalam prosesnya, komunikasi memiliki 5 unsur, yaitu :
Sumber
Adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi.  Sumber bisa seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan, atau bahkan suatu negara.

Pesan
Adalah inti dari apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan/atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi. Simbol terpenting adalah kata-kata (bahasa), yang dapat merepresentasikan objek (benda), gagasan, dan perasaan, baik ucapan ataupun tulisan (surat, esai, artikel, novel, puisi, pamflet, dan sebagainya). Pesan juga dapat dirumuskan secara nonverbal, seperti melalui tindakan atau isyarat anggota tubuh (acungan jempol, anggukan kepala, senyuman, tatapan mata, dan sebagainya), juga melalui musik, lukisan, patung, tarian, dan sebagainya.

Media atau Saluran
Adalah alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima. Saluran juga merujuk pada cara penyajian pesan: apakah langsung (tatap muka) atau lewat media cetak (surat kabar, majalah) atau media elektronik (radio, televisi).

Penerima

Adalah orang yang menerima pesan dari sumber.

Efek
Adalah apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut, , mulai dari pengetahuan, terhibur, perubahan sikap, perubahan keyakinan, perubahan perilaku .

Unsur-unsur lain yang sering ditambahkan adalah, umpan balik (feed back), gangguan/kendala komunikasi (noise/barriers), dan konteks atau situasi komunikasi. Pandangan ini menyetarakan komunikasi dengan suatu proses sebab-akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian. Umpan balik (feed back), yakni apa yang disampaikan penerima pesan kepada sumber pesan, yang sekaligus digunakan sumber pesan sebagai petunjuk mengenai efektivitas pesan yang ia sampaikan sebelumnya.

Persoalannya adalah apakah ketika seseorang berkomunikasi dengan lainnya bias selalu ada dalam situasi yang baik dan enak, sebagaimana yang diharapkan. Jawabannya adalah TIDAK. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau efektivitas suatu proses komunikasi, baik karena faktor komunikator, komunikasi, medianya, isi pesannya ataupun lingkungan yang mempengaruhi suatu proses komunikasi.

Sementara disisi lain ada juga faktor yang sering menimbulkan hambatan komunikasi, yaitu  persoalan etika. Persoalan ini muncul terutama karena ada nilai dan Standar yang berbeda yang digunakan oleh partisipan komunikasi sehingga menimbulkan ketegangan atau bahkan tertutupnya proses komunikasi. Perbedaaan standar komunikasi yang digunakan akan menimbulkan jurang dan jarak dalam proses komunikasi.

Etika pada dasarnya merupakan suatu standar yang diikuti, dalam kaitannya berhubungan dengan orang lain. Etika  pada prinsipnya menjelaskan yang baik dan buruk, benar atau salah dan apa yang layak atau tidak layak dalam berbagai setting yang bervariasi, dalam suatu hubungan sosial. Jadi etika pada dasarnya menggunkan penilaian sebagai dasar dalam melakukan relasi sosial. Orang pada dasarnya menggunakan system nilai etika yang berbeda. Bagaimana perbedaan tersebut bisa terjadi, terutama karena faktor latar belakang dari masing-masing orang yang berbeda, yang menjadikan misalnya pengalaman sebagai standarisasi yang digunakan untuk menilai atau menentukan sesuatu. Cara pandang inilah yang sangat mungkin bervaariatif, walaupun mungkin seseorang atau sekelompok orang memiliki kesepakatan atas suatu nilai yang digunakan bersama, namun demikian tidaklah jaminan kesamaan tersebut tidak menimbulkan perbedaan, terutama atas tafsir dan referensi dasar yang digunakan oleh seseorang.

Etika menunjukkan keseluruhan dari berbagai faktor, yaitu integritas, kejujuran, fairness dan gambaran,  yang menjelaskan mengenai kompleksitas utuh dari seseorang atau sekelompok orang. Hal ini dibedakan dengan etiket, yang lebih banyak menyentuh mengenai teknis perilaku seseorang, yang : harus begini, tidak boleh begitu..

Sistem nilai tersebut bias muncul, antara lain dibangun melalui :

    Pengalaman personal, yaitu bagaimana seseorang mendapatkan berbagai variasi pengalaman dan bagaiaman yang bersangkutan menyikapi berbagai persoalan yang timbul didalamnya

    Latar belakang religi, yang memberikan nilai-nilai dasar, berasaskan dogma agama, atau nilai yang dikembangkannya.

    Pendidikan , memberikan transformasi berbagai pengetahuan dari misalnya bangku pendidikan formal, mengajarkan rasionalitas, ataupun kepatuhan-kepatuhan tertentu.

    Latihan dari keluarga,  merupakan kelompok inti yang banyak memberi warna bagi seseorang dalam mengembangkan berbagai cara , mindset dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan etika komunikasi, pada dasarnya selain hal-hal diatas, hal-hal yang bersifat kebudayaan dan pengaruh kehidupan sosial sehari-hari menentukan pembentukan nilai yang digunakan sebagai pertimbangan etika komunikasi. Orang jaa mengenal “unggah – ungguh” bahasa sebagai ekspresi perhormatan atas senioritas. Orang Batak mengenal keterbukaan, apa adanya dalam berkomunikasi, lebih egaliter. Orang-orang daerah pantai memiliki pandangan harmoni berbeda dalam proses komunikasi dengan orang yang lebih banyak tinggal di pegunungan misalnya, atau perkotaan dengan pedesaan.

Etka komunikasi lebih banyak membicarakan bagaimana nilai dipertemukan dalam proses maupun inti dari komunikasi yaitu pesan, termasuk medianya, termasuk juga mengenai perilaku/ tindakan seseorang dengan yang lainnya dalam suatu proses komunikasi. Kegagalan atau keberhasilan komunikasi menjadi perhatian penting juga dalam dimensi etik, ketika seseorang sedang berpikir mengenai bagaimana berkomunikasi dengan efektif.

Referensi dasar: Mulyana, Deddy, 2004, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Penerbit Rosda Karya.

Oleh: Setio Budi HH, M. Si (Trainer JTTC UGM)

Kategori:Artikel SDM Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: