Beranda > Artikel Pariwisata > Kawasan Prambanan Sebagai Historicel District

Kawasan Prambanan Sebagai Historicel District

I.   PENDAHULUAN.
Cicero Seorang ahli sejarah mengatakan bahwa; orang yang tidak tahu sejarah ibarat seorang bayi yang tak pernah dewasa, sementara itu  Presiden pertama RI,  Bung Karno mengatakan;  Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai warisan budaya bangsanya.
Apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya bangsanya merupakan manifestasi  dari pemahaman dan penggharaan masyarakat terhadap warisan budaya bangsanya, sekaligus merupakan salah satu factor kelestarian warisan budaya bangsanya.

Warisan budaya bangsa  merupakan manifestasi dari proses adaptasi masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia, yang merefleksikan tingginya kebudayaan /peradaban nenek moyang bangsa Indonesia di masa yang lampau. Warisan budaya merupakan aset masyarakat – bangsa Indonesia merupakan sumberdaya budaya yang memiliki nilai penting yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan masyarakat baik untuk kepentingan akademis, ideologis, dan ekonomis.

Guide merupakan salah satu komponen penting pariwisata. Citra pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta ditentukan oleh capabilitas  guide.

II. LATAR BELAKANG SEJARAH KAWASAN PRAMBANAN.
Sesungguhnya sangat sulit untuk menggambarkan peristiwa masa lampau sebagai mana kejadiannya dimasa lampau. Hal ini disebabkan bukti – bukti yang ditinggalkan oleh manusia bersifat frahmentaris atau sepotong – sepotong. Sumber  informasi yang dapat mengungkapkan  sejarah kawasan Prambanan ada dua yakni:
1.    Bangunan Candi.
Keberadan situs – situs peninggalan arkeologi  di kawasan Prambanan merupakan bukti otentik bahwa wilayah tersebut  di masa lampau merupakan salah satu pusat aktivitas manusia. Apabila melihat jumlah dan pola sebarannya besar kemungkinannya wilayah Prambanan dahulu pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno.
2.    Prasasti.
Prasasti merupakan sumber tertulis yang dijadikan sebagai sumber informasi yang akurat untuk mengungkapkan sejarah kawasan Prambanan. Dikatakan akurat karena di dalam prasasti memuat berbagai informasi mengenai waktu, tokoh, nama tempat, dan berbagai peristiwa yang terjadi dimasa lampau.
Menurut Ribut Darmosoetopo (Darmosoetopo, 1997). setidak – tidaknya terdapat empat ( 4 ) buah prasasti yang menginformasikan tentang letak Kerajaan Mataram Kuna. Keempat prasasti itu ialah:
(1) Prasasti Siwa Grha yang berangka tahun 856 TU menyebutkan bahwa keraton Mdang ri Mamrati (Mdang di Mamrati).
(2) Prasasti Mantyasih I yang berangka tahun 907 TU menyebutkan tentang keraton Mdan ri poh pitu (Mdan terletak di Poh Pitu ). Kedua lokasi itu  diperkirakan berada di Jawa Tengah, letak Poh Pitu berada di sekitar Kedu Magelang. Sementara itu  sedangkan Mamrati diperkirakan berada di sekitar Prambanan.
(3) Prasasti Karang Tengah berangka tahun
(4) Prasasti Paradah 983 TU menyebutkan  tentang kadatwan mdang ri bhumi mataram i watugaluh (Mdang Bumi Mataram terletak di Watugaluh) berada di Jawa Timur

III. CANDI  SEBAGAI  KARYA  ARSITEKTUR.
Candi sebagai tempat pemujaan merupakan karya arsitektur yang bersifat momumental. Candi di Indonesia  merupakan peninggalan Agama Hindu–Budha tidak dipungkiri apabila dipengaruhi oleh nilai–nilai budaya kedua agama tersebut, walaupun  demikian bentuk–bentuk candi Di Indonesia tidak ada yang menyerupai kuil–kuil di India.

Berkenenaan dengan statement itu Anom berhasil mensitir pernyataan sejumlah ahli antara lain Bosch ( 1961 ) yang menyatakan  candi sebagai salah satu peninggalan Agama Hindu – Budha dengan jelas menampakkan ciri budaya India, akan tetapi tidak satupun candi di Indonesia yang dapat dicari asalnya di India. Adanya khasan ini tidak lain disebabkan candi Indonesia dikerjakan oleh seniman  Indonesia sendiri. Kitab Silpasastra hanya dipakai sebagai dasar ciptaannya, selanjutnya dikembangkan sehingga hasilnya adalah sesuatu yang bercorak Indonesia.  (I.G.N Anom, 1997 ).

Menurut Soekmono candi  merupakan pertumbuhan yang berakar pada budaya masa prasejarah yang telah ada dalam bumi Indonesia, sebelum masuknya pengaruh  kebudayaan Hindu – Budha . Akar budaya yang dimaksudkan dalam hal ini tidak lain apa yang lazimnya disebut “ Kebudayaan Megalithikum “ Arsitektur candi dengan tipe punden teras berundak merupakan perpaduan konsep antar doktrin Agama Hindu dengan tradisi Megalithik.  (Soekmono, 1984). Menurut Heine Geldern, candi dengan susunan halaman  berundak – undak  merupakan bentuk perkembangan punden berundak dari masa tradisi megalithik pada masa prasejarah ( Robert Von Heine Geldern, 1945). Sebagai tempat pemujaan merupakan hasil alkulturasi antara unsur – unsur kebudayaan local dengan   unsur kebudayaan India.  Bukti – bukti fisik yang menunjukkan adanya perpaduan antara  unsur kebudayaan lokal dengan budaya  India dapat dilihat dari pola tata ruang  kompleks percandian  di  kawasan Prambanan.

Candi merupakan salah satu karya arsitektur peninggalan Agama Hindu dan Budha. Menurut I.G.N. Anom ( 1977 ) ada dua hal yang menonjol yang mempengaruhi wujud fisik arsitektur candi yakni aspek teknis dan aspek agama. Kedua aspek ini tidak dapat dipisahkan, karena aspek teknis merupakan ekspresi dari aspek keagamaan yang  mendasari bentuk fisik bangunan candi.
1)  Aspek teknis terkait dengan perencanaan konstruksi terdiri dari tata letak, bahan, dan cara pengerjaannya.
2) aspek keagamaan berhubungan dengan perencanaan desain candi dipengaruhi oleh filosofi, nilai–nilai dan kaidah–kaidah  dalam doktrin agama baik  Hindu maupun Budha.

Nilai arsitektur yang dapat dipetik dari bangunan candi berhubungan dengan proses perencanaan desain yang meliputi sejarah ide atau gagasan dan konsep  keagamaan  yang melatarbelangi desain candi. Ide atau gagasan itu kemudian diaplikasikan dalam sebuah konsep tata ruang dan bangunan kompleks pemujaan atau tempat suci keagamaan. Proses penciptaan gagasan yang mensintesakan antara aspek keagamaan, lingkungan dan aspek teknis dalam bentuk sebuah lingkungan binaan yang bersifat monumental.
Doktrin agama Hindu mengajarkan bahwa gunung merupakan tempat tinggal para dewa sedangkan  itu dalam tradisi Megalithik diajarkan bahwa gunung merupakan tempat bersemayamnya roh – roh nenek moyang. Oleh karena  unsur  yang ada di dalam doktrin Agama Hindu pada kenyataannya tidak ada perbedaan yang essensial dengan  faham keyakinan yang dianut  masyarakat  lokal, sehingga ajaran  agama baru tersebut mudah diterima oleh masyarakat lokal.

Refleksi dari nilai arsitektur adalah aplikasi konsep Gunung Meru yang dilambangkan sebagai kosmos atau jagat raya. Gunung sebagai fenomena alam adalah benda alam berbentuk kerucut yang muncul dipermukaan bumi. Personifikasi ekspresi simbolisasi  dari konsep Gunung Meru yang melambangkan jagat raya dalam wujud kongkrit tercermin pada bangunan candi berbentuk segi tiga yang terdiri dari tiga bagian, yakni kaki, tubuh dan atap. Secara fisik kaki candi diwujudkan dalam bentuk bangunan bujur sangkar  dengan ukuruan lebih besar dari pada tubuh, sedangkan  atap diwujudkan dalam bentuk  struktur bangunan bertingkat semakin keatas semakin kecil, sehingga membentuk kerucut menuju satu titik yang biasa disebut kemuncak merupakan simbolisasi dari puncak Gunung Mahameru.
Wilayah Prambanan memiliki nilai historis dan cultural bagi bangsa Indonesia pada umumnya, khususnya masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Nilai historis dan cultural tersebut tidak dapat dilepaskan dari peninggalan arkeologi  tersebar di wilayah Prambanan. Sebagaian besar peninggalan arkeologi yang terdapat di wilayah tersebut adalah peninggalan Agama Hindu – Budha pada masa Kerajaan Mataram Kuno.  Berdasarkan  dokumen yang yang tersimpan di BP 3 Jawa Tengah dan BP3 DIY jumlah peninggalan arkeologi di wilayah Prambanan sebanyak 64 situs.  Situs – situs tersebut  tersebar di wilayah Kecamatan Prambanan Klaten sebanyak 28 situs dan 36 situs tersebar di wilayah Kecamatan Prambanan Sleman.
Peta Sebaran Tinggalan Arkeologi.

IV. TEKNOLOGI RANCANG BANGUN  CANDI.
Aspek teknis dari bangunan candi terletak pada teknologi rancang bangun candi  merupakan  sistem pengetahuan  tentantang bagaimana membuat suatu bangun candi. Tata cara pembangunan kuil di India  dimuat dalam kitab – kitab Vāstusśāstra salah satu diantaranya adalah Mānasāra. Didalam buku Mānasāra terdapat uraian yang menyebutkan beberapa tahapan dalam proses pembangunan kuil, yakni:  melalui proses pemilihan lahan , penelitian tanah,  pengujian lahan merupakan hal utama yang harus dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan tanah yang menyangkut kohesi tanah dan tingkat kesuburan tanah. Proses selanjutnya adalah   pelaksanaan fisik pembangunan kuil berhubungan dengan bahan,  konstruksi dan cara pengerjaannya ( Anom, 1997,Prayudi, 1999).

Teknologi rancang bangun dalam mewujudkan bangunan candi sebagai tempat pemujaan  sesuai dengan kaidah – kaidah dan norma – norma  yang terdapat di dalam ajaran Agama Hindu, bahwa  bangunan candi fungsi sebagai rumah dewa harus kuat, tidak mudah rusak atau tahan lama, dan indah. Secara teknis gagasan mewujudkan ide bentuk bangunan candi yang menyerupai gunung dengan menggunakan  batu  sebagai material utama, merupakan gagasan yang luar biasa.  Konstruksi susunan batu memberikan kemungkinan pemberian hiasan. Hiasan – hiasan tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk mengurangi sifat pejal. Sifat pejal yang dimiliki bangunan candi memperkuat sifat monumental.

Berdasarkan data  yang terdapat dalam laporan pemugaran konstruksi bangunan candi mulai dari fondasi , kaki, tubuh, dan atap mengunakan tehnik susun tumpuk tanpa perekat. Penggunaaan konstruksi batu – batu andesid dengan sistem susun tumpuk secara teknis memiliki kelemahan gerakan sekecil apapun yang terjadi dapat menjadi ancaman besar bagi keselamatan konstruksi itu. Agar bangunan candi tidak mudah rusak apabila terjadi gempa maka dibuat perkuatan pada beberapa bagian tertentu.

Perkuatan yang dibuat untuk menahan konstruksi itu agar tidak mudah runtuh, antar lain berupa sambungan atau hubungan antar batu luarnya. Pada bagian bangunan yang diperkirakan mudah runtuh, seperti bagian yang paling lebar antara tubuh dan atap, kaki bangunan utama, dan kaki candi yang menahan beban paling besar, diberi sambungan khusus. Hubungan atau sambungan batu yang dibuat khusus itu mungkin dimaksudkan agar kaki candi dapat menahan tekanan ke arah luar dari bagian candi diatasnya. Pen yang terbuat dari batu alam pada dua lapis batu terbawah, selain lebih kuat dari pada pen dari batu yang telah dibentuk, juga mempunyai sifat elastis bila terjadi gerakan.

Selain teknik konstruksi bangunan, bukti – bukti arkeologis yang mengambarkan tentang proses pembangunan candi adalah candi patok dan lingga patok yang berada di halaman candi utama dan titik magis atau Brhamastana. Kedua artefak tersebut merupakan manifestasi dari proses awal sebelum pembangunan fisik candi dilakukan adalah menentukan batas dan tata  letak bangunan candi.
Menurut kitab manasara untuk menentukan tata letak suatu bangunan candi mula–mula dicari titik pusat halaman dengan menggunakan sebatang pasak ( sankhu ) yang terbuat dari sebatang kayu yang ditanam pada  keempat mata angin, serta arah keempat penjuru lainnya. Pada lahan itu kemudian  batas dan letak bangunan candi dilakukan dengan cara membuat diagram mandala diatas tanah tempat candi akan didirikan. Mandala dalam bahasa sansekerta berarti circle atau ruang yang digunakan sebagai pusat dalam pelaksanaan ritual.

Dari uraian diatas nampak bahwa aspek keagamaan ( ide dan bentuk ) dan aspek teknis ( konstruksi dan bahan ) berhasil dipadukan dengan baik guna mewujudkan suatu arsitektur candi yang harmonis. Konstruksi bangunan dengan sistem susun tumpuk tanpa perekat. menunjukkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat pada masa lampu  mengenai teknologi rancang bangun pada masa lampau sangat  mengagumkan. Pemilihan suatu ide yang tepat dan cocok dengan teknologi dan bahan yang tersedia dapat dinilai bahwa kemampuan teknologi rancang bangun Candi Ijo yang dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia di masa lalu sangat tinggi. Pemanfaatan material dari lokasi disekitarnya memberi gambaran proses adaptasi manusia terhadap lingkungan alamnya.

V.  KOMPLEKS PERCANDIAN DI KAWASAN PRAMBANAN PASCA GEMPA.
Gempa bumi yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 tidak hanya berdampak buruk terhadapan berbagai aspek kehidupan  masyarakat di sejumlah wilayah DIY dan Jawa Tengah, termasuk tinggalan budaya mengalami kerusakan yang ringan sampai dengan sangat parah.

Candi – candi di kawasan Prambanan yang  terkena dampak gempa tersebut adalah kompleks Candi Prambanan, Sewu, Plaosan, dan Sojiwan. Berdasarkan dari identivikasi diantara keempat kompleks, kerusakan yang  paling parah adalah kompleks candi Prambanan.
Foto Kerusakan Candi Prambanan.
Kompleks Candi Prambanan  telah ditetapka oleh UNESCO sebagai salah satu monument dunia .Problematika utama yang dihadapi oleh pemerintah dalam menangani kerusakan Candi Prambanan adalah:
1.    Managemen dana untuk kegiatan renovasi.
2.    Pengetahuan para ahli tentang teknologi rancang bangun candi.
3.    Bangunan  candi utama dikompleks Prambanan telah dipugar dan dikonservasi dengan menggunakan system teknologi yang berbeda dengan teknologi yang digunakan oleh nenek moyang

V.  PENUTUP
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Kawasan Prambanan sebagai historical district pernah menjadi salah satu pusat aktivitas manusia antara abad VIII – ahkir abad X. Sebagai historical district wilayah Prambanan merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dengan keluasan wilayah yang meliputi wilayah administratif  Kecamatan Prambanan – Kabupaten Klaten dan Kecamatan Prambanan – Kabupaten Sleman.

Candi di  kawasan Prambanan sebagai suatu karya arsitektur merupakan hasil alkulturasi antara unsure – unsure budaya local dengan unsurr – unsur budaya India. Dengan demikian candi sebagai karya arsitektur bukan merupakan karya epigon atau jiplakan seni bangunan kuil India,  akan tetapi merupakan hasil kreatifitas  para seniman  local. Kemampuan para arsitek dan seniman lokal  menyerap dan menseleksi serta mengolah nilai–nilai budaya asing, kemudian menyelaraskan dengan nilai–nilai budaya lokal. Dengan kata lain budaya lokal mampu menentukan bentuk dan arah perkembangan arsitektur campuran lebih menunjukkan corak budaya setempat, sehingga menghasilkan  rangcangan yang khas baik bentuk maupun keindahannya.

Disampaikan oleh:
Dra. Surayati
BP3 Propinsi DIY
Pada Pelatihan Pemandu Wisata Kabupaten Sleman
Kerjasama antara Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kab. Sleman dengan JTTC UGM

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: