Beranda > Artikel SDM > Managing Crisis: Kebijakan Media

Managing Crisis: Kebijakan Media

Media Policies and Procedures:
-Prepared Statements and News Release

Tujuan umum dari program kerja dan berbagai aktivitas public relations (PR) atau humas di tataran praktik, pada dasarnya adalah bagaimana upaya menciptakan hubungan harmonis antara organisasi (perusahaan) yang diwakili dengan publiknya. Pada akhir tujuannya, diharapkan tercipta  citra positif, kemauan yang baik, saling menghargai dan timbul pengertian kedua belah pihak yang terkait.

Untuk menciptakan hubungan harmonis ke publik itu, maka mau tidak mau PR harus ‘merangkul’ atau melakukan hubungan yang efektif dengan pers. Ini penting sebagai alat pendukung atau media kerja sama untuk kepentingan proses publikasi tentang aktivitas lembaganya atau sebagai media promosi.

Salah satu aktivitas menjalin hubungan yang baik dengan pers, selain melakukan kontak pribadi dan kelembagaan, yakni memberikan pelayanan sebaik-baiknya oleh pihak humas (PR) dalam bentuk pemberian informasi dan publikasi. Misalnya press release, news letter, dll.

Oleh karena itu,  seorang praktisi PR sebagai ‘ujung tombak’ sebuah perusahaan/institusi maka harus menguasai dasar-dasar teknik dan kemampuan dalam tulis-menulis untuk media massa (press release) dengan mengandung nilai berita (news value) tinggi.

Membuat press release

Agar press release sebagai kegiatan publisitas disiarkan  oleh media massa, maka harus memenuhi persyaratan sebagaimana layaknya penulisan sebuah berita. Ini karena pada hakekatnya, press release adalah suatu berita. Inti dari berita adalah informasi kepada khalayak umum. Oleh karena itu, pembuatan press release juga harus memakai pedoman yang dipakai seorang wartawan atau jurnalis dalam menulis berita, yakni adanya unsur 5 W  plus 1 H, yaitu:

1.    What (apa): Informasi tentang materi apa yang akan ditulis.
2.    Who (siapa): Berisi pelaku atau subjek, misalnya nama orang, nama perusahaan dsb.
3.    When (kapan): Informasi waktu, misal pelaksanaan aktivitas.
4.    Where (di mana): Berisi keterangan menyangkut tempat atau lokasi.
5.    Why (mengapa): Berisi alasan-alasan penting, misalnya mengapa hal itu terjadi, dll.

Press release yang baik ditulis dengan gaya bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik sendiri merupakan bahasa komunikasi massa yang harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yakni singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas.

Ciri yang harus dimiliki bahasa jurnalistik, di antaranya:
a.    Singkat, artinya menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.
b.    Padat, artinya bahasa yang dipakai singkat, namun mampu menyampaikan informasi lengkap. Menerapkan prinsip 5W plus H, membuang kata-kata mubazir dan hemat kata.
c.    Sederhana, artinya bahasa pers sedapatnya memilih kalimat tunggal, menghindari kalimat majemuk yang panjang, rumit dan komplek. Kalimat harus efektif, dan pengungkapan kalimatnya tidak berlebihan (bombastis).
d.    Lugas, artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga.
e.    Menarik, artinya menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh dan berkembang.
f.    Jelas, artinya informasi yang disampaikan dengan mudah dapat dipahami khalayak umum. Hindari ungkapan kata bersayap (ambigu).

Apakah press release pasti bisa dimuat di media yang dituju?
Pada prinsipnya, wartawan ataupun redaktur (editor) dalam melihat sebuah peristiwa adalah dengan menilai apakah itu memiliki nilai jurnalistik atau tidak. Demikian pula terhadap press release yang masuk.

Lalu, bagaimana patokan atau unsur-unsur yang punya nilai jurnalistik itu?
a.    Aktualitas
Sesuatu yang baru (aktual) biasanya memiliki nilai jurnalistik tersendiri. Dan sebaliknya, sesuatu yang tidak aktual biasanya tidak menarik lagi untuk dibicarakan lagi, karena sudah basi.

b.    Kedekatan
Unsur kedekatan ini merupakan unsur yanga penting. Namun, kedekatan ini berbeda nilai jurnalistiknya antara media yang satu dengan media yang lain. Kedekatan di sini bisa berarti geografis, bisa pula kedekatan dalam arti emosional antara media dengan pembacanya.

c.    Penting
Penting bisa mengandung beberapa pengertian (seberapa penting). Pertama, bisa berarti peristiwa yang akan disiarkan itu menyangkut orang penting atau terkenal (pejabat tinggi, ilmuwan terkenal, pakar, pengusaha sukses, artis/selebritis, seniman besar). Kedua, peristiwa atau kegiatan yang dilakukan menyangkut kepentingan orang banyak, sehingga menarik perhatian khalayak.

d.    Luar Biasa
Sesuatu yang ada di luar kebiasaan suatu lingkungan masyarakat, sudah pasti bakal menarik perhatian orang. (Pendek kata, kalau ada acara kemudian masuk MURI, pasti menarik).

e.    Akibat yang Ditimbulkan
Suatu kebijakan atau peristiwa yang menyebabkan akibat luas, juga selalu menjadi daya tarik media massa. Misalnya rencana kenaikan BBM, dll.

Semoga bermanfaat.

*) Adib Lazwar Irkhami, Pemimpin Redaksi Radar Jogja, disampaikan dalam Managing Crisis for Public Relations di JTTC, UGM, 1 Juni 2005.

Kategori:Artikel SDM Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: