Beranda > Wisata Jogja > Wisata Minggu Pagi UGM

Wisata Minggu Pagi UGM

Lesehan Minggu pagi diawali sekitar akhir tahun 80-an, dengan lokasi sekitar bulevar, Purna Budaya, dan “University Centre” (UC) di Kampus UGM. Sekarang, dengan adanya jalan tembus Lembah UGM dan Jalan Samirono, serta dibangunnya Masjid UGM, dan jalan tembus ke arah Kampung Karang Malang di sebelah timur, maka kawasan itu jadi mudah diakses.
Tren yang terjadi, sejak sekitar setahun terakhir atau lebih, setiap Minggu pagi tergelar sebuah pasar kaget aneka komoditas. Mulai dari pernik-pernik aneka suvenir mungil, makanan kecil, sandal, garmen, hingga “bed cover”, mudah didapatkan.
Ditaksir, pasar kaget ini menarik tak kurang dari 3.000 pengunjung. Jam praktiknya tak terlalu lama, antara pukul 06.00-10.30 saja.
Pernak Pernik

Pernak Pernik

UGM di Minggu Pagi

UGM di Minggu Pagi

Pasar kaget mingguan alias “Sunday Market” di UGM telah lahir. Menciptakan pasar janganlah dipandang enteng, gampang-gampang susah. Swasta-pemerintah yang mencoba merelokasi beberapa pasar merasakan bagaimana susahnya meramaikan pasar yang dibangun baru.

Tengoklah Pasar Telogorejo di seputaran Jalan Godean Km 4, saat ini sudah menginjak usia tahun ketiga atau malah keempat, namun pertumbuhannya seret. Pasar yang awalnya dimaksudkan oleh pengembang sebagai pasar garmen, dapat dikatakan gagal total.

Miliaran rupiah biaya investasi entah kapan kembali, mungkin kapan-kapan. Pasar Telogorejo saat ini cenderung ramai sebagai pasar

burung. Penjual dan pembeli memang menginginkan demikian, setidaknya dua kali seminggu.

Sungguh beruntung UGM mendapatkan pasar kaget mingguan seperti itu. Keperca-yaan publik (penjual yang meramaikan, juga bagian dari publik, lho!?) yang dirintis puluhan tahun. Menjadi sungguh sayang, jika pasar kaget ini ditangkap birokrat UGM sebagai kaki lima semata. Sepintas, praktik pasar kaget mingguan yang sekarang memang cenderung menutup jalan, kumuh, parkir ilegal yang mahal, dan sebagainya.

Adakah kepercayaan publik dan fenomena semacam pasar kaget mingguan telah direspons oleh pihak UGM, Pemkab Sleman, atau Pemprov DIY? Dengan sentuhan manajemen dan kerelaan UGM untuk mewadahi aktivitas fenomenal tersebut, serta dukungan pemerintah untuk pengaturan lalu lintas khusus di hari Minggu pagi, niscaya kita semua warga Yogya akan mempunyai tambahan daya tarik wisata yang signifikan.

Jika pihak UGM menambah kerelaannya untuk ruang terbukanya yang seabrek itu, agar dapat digunakan sebagai pasar kaget mingguan, dan ada pengaturan khusus lalu lintas bermotor, misalnya khusus di Minggu pagi (06.00-10.30) ruas jalan timur UGM menjadi “semipedestrian”. Kendaraan umum dan roda empat menggunakan ruas tengah serta pemanfaatan ruang parkir “off-street” (misal selatan FKG). Maka, pasar kaget mingguan yang ada sekarang akan lebih manusiawi dan optimal, tak kalah dengan “flea-market” atau “fresh market” di negeri-negeri Eropa atau Australia.

Sebagai tambahan, taman di Lembah UGM yang sekitar sebulan terakhir dibuka untuk umum, dapat menjadi ruang publik yang melegakan. Tengoklah keceriaan anak-anak (juga orangtuanya) yang bercengkerama dengan rusa-rusa yang jinak, atau sekadar melihat pemancing yang berderet di sekitar kolam Lembah UGM, atau duduk menikmati saujana lembah dari bangku-bangku taman yang tersebar.

Tak apalah, kalau “lisjtplank” “Di Sini Akan Dibangun Museum Serangga dan Kupu-kupu” belum jadi-jadi, walaupun sudah menghiasi kawasan itu lebih dari lima tahun terakhir ini. Namun, sebenarnya hal itu potensi yang lama tersia-siakan. Lembah UGM sungguh oase untuk bercengkerama dengan keluarga dan teman, bahkan “jogging-track” yang sangat lumayan.

Pihak UGM untuk pengelolaan taman lembah sebenarnya juga dapat menarik sekadar karcis masuk, sekadar untuk membeli tong sampah yang kayaknya belum pernah ada. Atau, untuk membuat dan mengelola fasilitas kamar mandi-WC yang layak.

Terus terang agak khawatir melihat pasar kaget mingguan dan Lembah UGM yang fenomenal tersebut, sangat mudah diberi cap kumuh, mengganggu lalu lintas, rawan kecelakaan. Dan, ketularan “ngelmu” dan teknik penguasa-penguasa kota yang mudah men-”delete” fenomena semacam itu, atas nama proyek relokasi dan ketertiban.

Mari Pak Rektor, Mas-mas pengelola pusat-pusat studi atau BEM di UGM untuk turun tangan, menyambut kepercayaan publik yang sedemikian besar atas lingkungan kampus. Sedikit sentuhan saja, insya Allah Kampus Gadjah Mada akan lebih terasa manusiawi, di tengah-tengah lingkungan Kota Yogya yang semakin sesak dengan baliho iklan raksasa dan mal yang mengepung. Bersediakah Anda??!

DAMBUNG LAMUARA DJAJA
Anggota KERUPUK (Komunitas Peduli Ruang Publik Kota)

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0602/15/jogja/21002.htm

Foto: http://tutinonka.wordpress.com

Kategori:Wisata Jogja Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: