Beranda > Artikel SDM > Manajemen Konflik Dipandang Dari Perspektif Budaya

Manajemen Konflik Dipandang Dari Perspektif Budaya

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki bermacam adat dan budaya. Keragaman budaya tersebut dapat tergambar dari bahasa, pakaian adat dan upacara adat istiadat yang sudah menjadi tradisi.
Tanpa disadari pula, keragaman tersebut terkadang menjadi salah satu penyebab terjadinya konflik.

Konflik dimana sebagian orang beranggapan bahwa konflik merupakan suatu hal yang menakutkan. Ini tidak terlepas dari pandangan masyarakat awam bahwa setiap kerusuhan yang terjadi di seluruh pelosok nusantara ini merupakan klimaks dari konflik. Sementara di lain pihak bahwa konflik itu sendiri terkadang mesti “diundang” dalam artian  yang luas. Sehingga dengan demikian kita dapat mengetahui ada  permasalahan apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, maksudnya konflik itu sendiri akan menjadikan masyarakat lebih dinamis terutama dalam menghadapi hidupnya.

Para pakar ilmu perilaku organisasi, memang banyak yang memberikan definisi tentang konflik. Robbins, salah seorang dari mereka merumuskan bahwa Konflik sebagai :”suatu proses dimana sebuah upaya sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menghalangi usaha yang dilakukan oleh orang lain dalam berbagai bentuk hambatan yang menjadikan orang lain tersebut merasa frustasi dalam usahanya mancapai tujuan yang diinginkan atau merealisasi minatnya”.

Dengan demikian yang dimaksud dengan Konflik adalah proses pertikaian yang terjadi sedangkan peristiwa yang berupa gejolak dan sejenisnya adalah salah satu manifestasinya. Lebih jauh Robbins menulis bahwa sebuah konflik harus dianggap sebagai “ada” oleh pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Dengan demikian apakah konflik itu ada atau tidak ada, adalah masalah “persepsi” dan bila tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa ada konflik, maka dapat dianggap bahwa konflik tersebut memang tidak ada. Tentu saja ada konflik yang hanya dibayangkan ada sebagai sebuah persepsi ternyata tidak riil. Sebaliknya dapat terjadi bahwa ada situasi-situasi yang sebenarnya dapat dianggap sebagai “bernuansa konflik” ternyata tidak dianggap sebagai konflik karena anggota-anggota kelompok tidak menganggapnya sebagai konflik. terhadap satu sama lain.

Artikel: Copyright JTTC UGM 2009

Kategori:Artikel SDM Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: