Beranda > Artikel SDM > Program Pemanfaatan CBT dan KBK Di Dunia Pendidikan

Program Pemanfaatan CBT dan KBK Di Dunia Pendidikan

Masa depan kita saat ini dibanjiri oleh informasi teknologi dan juga perubahan yang amat cepat (massif). Hal ini dikarenakan masyarakat dunia telah terjangkit revolusi  bidang ilmu, teknologi dan seni, serta arus globalisasi, yang menuntut kesiapan semua pihak untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Sebagai konsekuensinya, kita harus mampu tetap eksis di dalam  masyarakat yang sangat kompleks dan global.

Dalam konteks inilah pembaharuan dalam bidang pendidikan dan pembelajaran selalu dilakukan dari waktu ke waktu dan tak pernah henti (Never Ending Process). Pendidikan dan pembelajaran berbasis kompetensi merupakan contoh hasil perubahan dimaksud dengan tujuan untuk meningkatkan kulitas pendidikan dan pembelajaran.

Pendidikan berbasis kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi menurut  (Hall dan Jones, 1976) adalah “Pernyataan yang menggambarkan kinerja suatu kemampuan tertentu secara bulat yang merupakan perpaduan antara pengetahuan,ketrampilan dan sikap yang dapat diamati dan diukur”. Kompetensi lulusan merupakan modal utama untuk bersaing di tingkat global, karena persaingan yang terjadi adalah pada kemampuan sumber daya manusia. Oleh karena itu, penerapan pendidikan berbasis kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat global. Implikasi pendidikan berbasis kompetensi adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasiskan kompetensi.

Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, implementasi kurikulum dalam bentuk pembelajaran, dan evaluasi serta assessmen, menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi. Kurikulum berisi perencanaan dan perancangan bahan ajar yang diberikan kepada siswa/mahasiswa melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip pengembangan pembelajaran yang mencakup pemilihan materi, strategi, media, penilaian, dan sumber atau bahan pembelajaran. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai siswa/mahasiswa dapat dilihat pada kemampuan siswa/mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikuasai sesuai dengan standar prosedur tertentu. (Ditpertais, 2004).

APLIKASI CBT DALAM PENDIDIKAN
Competency Based Training (CBT) (COSTAC, 1990) memberikan tekanan pada apa yang dapat dilakukan oleh seseorang sebagai hasil dari pembelajaran (outcomes) dan juga memberikan penekanan pada keterlibatan peserta selama proses pembelajaran (input).Pada pelatihan ini diawali dengan penetapan ”kompetensi akhir” yang akan dicapai di dalam pelatihan. Hal ini berbeda dengan pendekatan tradisional yang lebih memberi tekanan pada jumlah kehadiran dalam pembelajaran saja (input) (COSTAC, 1990)

CBT lebih kepada ”Criterion Referenced” yang berhubungan dengan proses pencapaian dan demontrasi pengetahuan, pengetahuan spesifik serta tindakan yang dilakukan individu daripada ”norm referenced” yang berkaitan dengan pencapaian individu secara relatif terhadap yang lainnya di dalam kelompok.

Beberapa prinsip yang ditemukan oleh COSTAC (Commonwealth/State Training Advisory Committee) dalam Intoduction to Competency Based Training adalah:

  1. Sistem CBT meliputi semua klasifikasi pekerjaan dan gambaran kerja organisasi serta desain pekerjaan yang berhubungan dengan restrukturisasi penghargaan.
  2. Merupakan awal penataan dari klasifikasi lama menjadi klasifikasi baru dimana pencapaian keterampilan sebagai dasar bagi pengukuran kompetensi.
  3. CBT akan mendukung dalam pembentukan dan pengenalan profil pekerja secara individu dalam hal peningkatan keterampilan.
  4. Standar yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan  dan sikap yang dapat dinyatakan secara terminologi kualitatif dan terminologi kuantitatif. Dengan penerapan pendekatan yang beragam dan ditentukan oleh industri.
  5. CBT tidak berhubungan dengan identifikasi periode nominal pembelajaran.

Kesamaan peluang anak didik akan menjadi bagian integral dari CBT secara konseptual dan impelementasi. Perbedaan-perbedaan mendasar seperti, jenis kelamin, umur, latar belakang pendidikan dan sosial tidak berpengaruh dalam aplikasi CBT.
Terdapat beberapa keuntungan dari penerapan pendekatan CBT dengan metode off the job atau on the job training. Sudut pandang keuntungan CBT dapat dilihat dari berbagai sudut pandang (COSTAC, 1990) adalah:

a.    Dari Sisi Anak Didik

  1. Memenuhi kebutuhan anak didik untuk bekerja  lebih efektif pada langkah berbeda.
  2. Waktu  pembelajaran yang singkat bagi anak didik.
  3. Memberikan waktu kepada anak didik untuk menguasai masing-masing kompetensi lebih mendalam sebelum menguasai kompetensi lainnya.
  4. Meningkatkan efektifitas program pembelajaran, serta mengurangi ketidakhadiran,gesekan nilai dan masalah perilaku
  5. Mengkondisikan anak didik untuk menikmati tantangan dan kebebasan dalam mengambil tanggung jawab serta dapat menentukan metode pembelajaran yang akan dilakukannya.
  6. Membuat Anak didik berorientasi pada tugas dan selalu aktif.

b.    Dari Sisi Tenaga Pendidik

  1. Dapat dengan mudah menyesuaikan antara hasil dari pembelajaran dengan kompetensi yang diisyaratkan oleh pekerjaan.
  2. Artikulasi hasil lebih efektif antara program pembelajaran dan lembaga pendiddikan oleh karena tersedianya kompetensi yang jelas.
  3. Menyederhanakan prosedur penilaian, dengan kata lain anak didik diharapkan dapat memenuhi atau melebihi standar yang ditetapkan oleh industri.
  4. Dapat dengan mudah menciptakan kesamaan persepsi antara pelatih dan peserta didik sehingga dengan cepat masing-masing orang dapt memenuhi kebutuhan dari pekerjaan.

Secara singkat COSTAC mengemukakan terdapat 2 hal penting yang akan dicapai  dalam CBT dan keterkaitanya dengan keterampilan:

  1. Hasil dari keterampilan yang dilalui dalam proses pelatihan.
  2. Konsitensi di dalam pencapaian keterampilan minimum pada tingkatan antara individu dan yang diisyaratkan oleh industri.

II.    LANDASAN BERPIKIR
1. Percepatan beberapa sektor prioritas pembangunan hingga tahun 2010 untuk menyongsong dibukanya globalisasi dan liberalisasi perdagangan baik di ASEAN ( ASEAN FRAMEWORK AGREEMENT FOR THE INTEGRITY OF PRIORITY SECTORS, 2005) maupun di dunia (GATS: General Agreement on Trade Service), membuat kita sebagai bangsa Indonesia harus mempercepat pula kesiapan di dalam pengembangan Sumber Daya Manusia.

2. UU Tenaga Kerja no 13/2003 (PASAL  10)
•    Pelatihan kerja dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja.
•    Pelatihan kerja diselenggarakan berdasarkan program pelatihan yang mengacu pada standar kompetensi kerja.

3. UU Sisdiknas. UU No. 20/2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional
Penjelasan Pasal 35 (1) :
“Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati”

4. Kenyataan bahwa Indonesia berada pada posisi yang “kurang optimal” di peta pendidikan dunia.

Artikel: Copyright JTTC UGM 2009

Kategori:Artikel SDM
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: