Beranda > Rubrik Pesona Wisata > Adaptasi Di Lingkungan Kerja

Adaptasi Di Lingkungan Kerja

SAYA seorang mahasiswa perhotelan yang sedang melakukan On The Job Training   sekitar 3 bulan di sebuah hotel berbintang di Jogja. Selama di hotel saya ditempatkan di housekeeping  (laundry section) sampai dengan masa OJT  saya berakhir nanti. Saya merasakan selama OJT di hotel merupakan beban terberat, saya harus menghadapi kondisi ruang laundry yang cukup panas dan berisik, pekerjaan yang cukup banyak,  termasuk karakter dari karyawan-karyawan (senior) yang serba cuek dan tidak  ramah. Menurut pengalaman beberapa kakak kelas saya, rata-rata karyawan laundry memang seperti itu. Saya mulai berpikir apakah pilihan saya untuk masuk ke jurusan perhotelan sudah tepat karena akhir-akhir ini saya merasa stress dan tertekan menghadapi kondisi diatas. Keinginan saya untuk segera mengakhiri masa OJT cukup kuat. Mohon saran JTTC hal apa saja yang mesti saya lakukan agar tetap betah di tempat OJT karena saya sangat membutuhkan surat keterangan dan bagaimana saya harus mengahadapi kekecewaan saya terhadap dunia perhotelan?

Wike Damayanti, Jogja ;  wieke@myself.com

Saudari wieke di Jogja, permasalahan yang saudari hadapi adalah permasalahan yang sering terjadi pada proses adaptasi seseorang di lingkungan kerja atau organisasi yang baru. Perasaan terasing dan sendiri pasti akan melekat pada diri saudari apalagi status saudari saat ini OJT (on The Job Training) yang nota bene harus banyak belajar berbagai hal termasuk pengalaman kerja dan budaya organisasi dari senior-senior saudari yang sudah memiliki ‘jam terbang’ cukup tinggi dibandingkan dengan saudari. Pahit getir pengalaman yang saudari alami sebenarnya merupakan bumbu kehidupan bagi proses pendewasaan agar lebih matang dalam menghadapi dunia kerja yang sebenarnya.

Jenis pekerjaan dan lingkungan sosial kemasyaratan kadangkala sangat mempengaruhi sifat atau karakter seseorang. Pada pernyataan diatas saudari memaparkan bahwa para senior dimana saudari berada memiliki karakter yang cukup keras dan kurang ramah. Beberapa faktor yang mungkin saja mempengaruhi pembentukan karakter tersebut adalah kondisi tempat kerja, sifat pekerjaan, jenis pekerjaan dan sifat dasar (tempramen). Kalau kita tinjau suasana ruangan laundry di hotel yang rata-rata memiliki suhu berkisar 35-40C (cukup panas) termasuk beberapa mesin pencuci dan pengering yang mengeluarkan suara berisik, secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi fisik karyawan yang nantinya akan mempengaruhi karakter dan sikap.

Disisi lain jenis pekerjaan menuntut karyawan laundry untuk memiliki tingkat keterampilan, ketelitian dan ketepatan waktu yang cukup tinggi sehingga  menyebabkan tingginya tingkat stress karyawan. Setelah beberapa saat saudari mengikuti OJT di section tersebut pasti saudari mengerti bahwa proses pengecekan, identifikasi, pencucian, pengeringan (exctract) sampai dengan proses finishing suatu bahan cucian (linen) melalui berbagai proses yang cukup panjang dan tidak mudah. Tapi bukan berarti saudari dapat menyamaratakan semua orang yang bekerja di bagian laundry pasti memiliki karakter yang keras. Satu hal yang mesti saudari ingat bahwa sifat dasar seseorang (tempramen) lebih dominan dibandingkan beberapa faktor diatas. Orang yang memiliki tempramen keras akan cenderung selalu keras meskipun berada dilingkungan yang berbeda dengan karakter dirinya.

Saudari Wieke, kalau kami boleh menyarankan cobalah untuk mencari sisi positif dari berbagai aktivitas yang saudari lakukan di tempat OJT, jangan menganggap OJT beban berat yang mesti dipikul tapi anggaplah bagian dari proses pembelajaran untuk meraih kesuksesan. Ada baiknya saudari menyelesaikan OJT sampai dengan tahap akhir karena itu akan lebih berharga ketimbang putus ditengah jalan. Cobalah berkomunikasi dengan para senior (pembimbing OJT) saudari dengan lebih terbuka mengenai berbagai kesulitan yang saudari hadapi. Dengan cara seperti ini mungkin akan mengurangi beban saudari ditempat OJT.  Mengenai pilihan sekolah jangan khawatir prospek pendidikan parwisata dan dunia kepariwistaan cukup cerah pada saat ini. Meskipun berbagai isu sempat mengguncang pariwisata Indonesia, tapi lambat laun akan kembali normal.

Yang paling penting lagi buat saudari wieke, sering-seringlah sharing dengan karyawan hotel lainnya pada saat istirahat makan siang atau pada waktu training gathering (biasanya berbentuk evaluasi atau penyampaian teori-teori yang berhubungan dengan hotel pada saat pagi atau sore hari sebelum/sesudah aktivitas OJT) mengenai berbagai hal  misalnya saja jenjang karir dan pengalaman kerja agar wawasan saudari lebih terbuka. Sebagai tambahan pengetahuan bagi saudari tentang dunia kepariwisataan kami informasikan tanggal 5 Mei 2003 mendatang kami JTTC menyelenggarakan Workshop  New Era Tourism In Indonesia: Creating Opportunities yang dihadiri oleh Bapak Menteri Pariwisata dan Kebudayaan. Saudari dapat belajar banyak dari Workshop tersebut termasuk bagaimana menciptakan peluang-peluang di industri pariwisata. Seperti penanya sebelumnya (Bapak Subagyo) kami juga memberikan kesempatan khusus bagi saudari untuk hadir dengan tanpa dipungut kontribusi apapun. Selamat mencoba (IR/JTTC)

  1. Juli 17, 2009 pukul 2:03 am

    saya seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan Tugas Akhir, dan saat ini saya bekerja sebagai staff admininstrasi dan receiptionist di sebuah lembaga pendidikan (bimbel). Saya mengalami sedikit kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru, apa lagi ini adalah pertama kalinya saya bekerja. Saya sedikit merasa canggung dan segan unutk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan seluruh staff yang ada, sehingga terkadang membuat saya tidak banyak bicara. Saya tidak ingin terkesan tidak ramah. Mohon sarannya dan bagaimana cara beradaptasi yang baik agar saya dapat berbaur dengan luwes dengan lingkungan baru saya. Terima kasih.

    • jttcugm
      Juli 17, 2009 pukul 2:44 am

      Terima KAsih. Sebelumnya Masalah yang dialami mba Dini ini adalah wajar, sering kita merasa jenuh dan kaku berada di suatu komunitas yang benar-benar.saran dari kami kurang lebih diantaranya :
      1. Mempunyai Sikap Yang Betul Terhadap Perubahan Dalam Kerja artinya Sentiasa bersikap terbuka,realistik terhadap perubahan yang berlaku dan rancang perubahan secara berkala
      2. Tingkatkan Komunikasi dengan rekan kerja baru meskipun terkesan berat di awal namun optimis akan berkesan di kemudian, caranya :
      a. Luangkan waktu untuk mendekati seseorang yang sekiranya paling berpengaruh di lingkungan kerja
      b. Lakukan dengan tegas (assertive) bukan garang (aggressive)
      c. Luangkan pendapat anda secara sopan, tegas dan jelas
      d. Hormati pandangan rekan kerja anda
      3. Tingkatkan Sokongan Sosial Di Tempat Kerja, misalnya meluangkan waktu untuk membantu rekan kerja yang sedang mempunyai masalah yang nantinya mampu mewujudkan ikatan persahabatan antar rekan kerja

      Kurang lebihnya demikian, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkunjung di blog JTTC

      Regard JTTC UGM
      #Chyo

  2. che che
    April 15, 2010 pukul 4:15 pm

    Selamat malam,

    saya mau nanya nih, saya seorang karyawan di perusahaan swasta yang besar. Kebetulan paman saya direktur perusahaan tsb, tetapi beda department dgn saya. Awalnya saya melamar di perusahaan ini, dan diterima sebagai anak magang. Karena atasan saya melihat kerja keras dan ketekunan saya, akhirnya saya diangkat sebagai karyawan tetap.

    Masalahnya, karyawan yang satu tim dengan saya (jumlah banyak) tidak menerima saya sebagai teman mereka, saya dijauhi mereka, mereka pun tidak mau melibatkan aktivitas mereka dengan saya. Mereka selalu menyindir saya “saya diterima karena ada paman saya”. Padahal saya samasekali tidak mau dianggap seperti itu, saya beranggapan saya sama dgn mereka, kapanpun saya bisa dimarahi/dipecat. Dan atasan saya pun tidak mengangkat saya karena nama paman saya, tapi karena kerja keras saya.

    Saya tertekan sekali, saya merasakan mereka memandang saya sinis, mereka tidak mau ngobrol dengan saya, saya tidak diajak makan siang. Apakah saya salah karena tidak suka ikut ngobrol gosipin karyawan lain dgn mereka? apa karena saya terlalu rajin kerja? apakah salah atasan saya menyukai hasil kerja saya dibanding mereka ?

    Bahkan sekarang saya masih dianggap anak magang, yang masih bisa di plonco, suruh sana sini. Saya sekarang hanya bergaul dengan anak magang yang baru, karena dengan mereka saya merasa diterima. Tapi sampai kapan saya sanggup begini terus…? saya udah stress banget.

    Mohon saran nya bagaimana agar saya bisa diterima oleh mereka, karena saya tertekan banget.

    Trimakasih banyak

  3. che che
    April 18, 2010 pukul 4:27 am

    saya mau nanya nih, saya seorang karyawan di perusahaan swasta yang besar. Kebetulan paman saya direktur perusahaan tsb, tetapi beda department dgn saya. Awalnya saya melamar di perusahaan ini, dan diterima sebagai anak magang. Karena atasan saya melihat kerja keras dan ketekunan saya, akhirnya saya diangkat sebagai karyawan tetap.

    Masalahnya, karyawan yang satu tim dengan saya (jumlah banyak) tidak menerima saya sebagai teman mereka, saya dijauhi mereka, mereka pun tidak mau melibatkan aktivitas mereka dengan saya. Mereka selalu menyindir saya “saya diterima karena ada paman saya”. Padahal saya samasekali tidak mau dianggap seperti itu, saya beranggapan saya sama dgn mereka, kapanpun saya bisa dimarahi/dipecat. Dan atasan saya pun tidak mengangkat saya karena nama paman saya, tapi karena kerja keras saya.

    Saya tertekan sekali, saya merasakan mereka memandang saya sinis, mereka tidak mau ngobrol dengan saya, saya tidak diajak makan siang. Apakah saya salah karena tidak suka ikut ngobrol gosipin karyawan lain dgn mereka? apa karena saya terlalu rajin kerja? apakah salah atasan saya menyukai hasil kerja saya dibanding mereka ?

    Bahkan sekarang saya masih dianggap anak magang, yang masih bisa di plonco, suruh sana sini. Saya sekarang hanya bergaul dengan anak magang yang baru, karena dengan mereka saya merasa diterima. Tapi sampai kapan saya sanggup begini terus…? saya udah stress banget.

    Mohon saran nya bagaimana agar saya bisa diterima oleh mereka, karena saya tertekan banget.

    Trimakasih banyak

    • jttcugm
      April 19, 2010 pukul 5:34 am

      Kasus saudara sebenarnya sering dialami semua orang terutama karyawan baru. kesan senioritas sering dilakukan oleh seseorang yang telah lama bekerja dimiana dia bekerja. Lumrah atau biasa mereka lakukan untuk mempertahankan struktur kelembagaan mereka atau dengan kata lain mempertahankan status quo. saran dari kami mungkin dapat diterima saudara Che-che antara lain :
      Menghargai budaya perusahaan

      Percayalah, jika Anda memasuki suatu lingkungan, pastilah Anda berhadapan dengan peraturan. Sebebas-bebasnya suatu lingkungan, pastilah ada aturannya. Peraturan ini mutlak diperlukan agar kehidupan dalam lingkungan tersebut berjalan teratur. Oleh karena itu, Anda harus mengikuti peraturan yang ada di lingkungan baru tersebut. Baik peraturan yang sifatnya tertulis, maupun peraturan tidak tertulis tapi bersifat mengikat. Pada awalnya mungkin Anda akan merasa kagok. Namun begitu, Anda harus tetap mengikuti budaya dan aturan yang diterapkan di tempat kerja yang baru itu. Misalnya, jangan melanggar jika ada kewajiban mengenakan seragam kantor. Anda jangan coba-coba melanggar peraturan dengan alasan masih baru. Pemimpin yang berpengalaman akan tahu pasti mana kesalahan yang sengaja atau hanya sekadar dibuat-buat.

      Open mind

      Ingat, Anda masih baru. So, Anda masih sangat banyak membutuhkan bantuan dan belajar dari para senior di kantor. Walaupun mungkin pekerjaan yang Anda dapatkan sudah sesuai dengan disiplin ilmu yang Anda tempuh di kampus, bukan berarti Anda lantas bersikap “sok jagoan”. Pengalaman dari para senior akan sangat bermanfaat untuk Anda dalam lingkungan baru itu. Janganlah menutup diri. Terimalah kritikan orang lain. Bila Anda bekerja sebagai tim, cobalah untuk meraih kepercayaan di dalam tim. Dan akan lebih baik lagi bila Anda langsung mendapat kepercayaan untuk bertanggung jawab terhadap tugas tim. Anda akan banyak belajar.

      Pelajari dengan saksama tugas utama

      Perusahaan tak mungkin merekrut Anda sekadar untuk duduk santai di belakang meja kantor. Coba perhatikan, sudah banyak, bukan, tugas yang harus Anda kerjakan? Bila Anda merasa masih baru, cobalah pelajari terlebih dahulu tugas-tugas apa saja yang semestinya Anda kerjakan. Teliti dan pilih mana tugas yang harus diprioritaskan. Bila mengalami kesulitan, Anda bisa menanyakannya kepada atasan. Jangan lupa untuk melihat prosedur kerja terlebih dahulu supaya Anda tidak salah dalam mengambil tindakan. Setelah itu, cobalah evaluasi hasil kerjaan Anda. Apakah sudah sesuai dengan target yang diinginkan atau belum?

      Malu bertanya, sesat

      Apalagi bila pekerjaan yang Anda dapatkan bukan atau tidak sesuai sama sekali dengan disiplin ilmu yang Anda pelajari di bangku kuliah. Tentunya selain kritikan, Anda juga harus aktif “menjemput bola” agar Anda cepat menyesuaikan diri. Artinya, segeralah bertanya bila ada sesuatu yang sekiranya Anda rasa masih kurang jelas. Bertanya tidak harus pada orang yang lebih tua. Anda bisa bertanya kepada orang muda yang sudah cukup berpengalaman. Setidaknya, untuk urusan teknis, orang itu lebih berpengalaman daripada Anda. Selain itu, Anda bisa juga bertanya kepada atasan langsung atau rekan satu level.

      Minta penilaian

      Biasanya evaluasi resmi akan dilakukan oleh perusahaan setelah masa percobaan. Namun, sebaiknya, Anda tidak menunggu hingga waktu tersebut tiba. Cobalah minta penilaian terhadap apa yang sudah Anda kerjakan. Baik dan buruknya mesti Anda terima, sehingga Anda bisa meningkatkan kualitas kerja. Tapi sikap dan cara demikian bukanlah jaminan bahwa Anda akan begitu saja lolos dari masa percobaan atau bahkan dipromosikan untuk menjadi karyawan tetap. Bila ada kekurangan dalam hasil kerja Anda, diskusikanlah dengan orang lain untuk mendapatkan solusinya.

      Keingintahuan

      Kuriositas akan membuat Anda bersemangat dalam bekerja. Bila dari awal saja Anda sudah tidak memiliki rasa ingin tahu terhadap bidang pekerjaan, bukan tidak mungkin Anda pun akan malas untuk mengerjakan apa pun. Kuriositas akan memotivasi Anda untuk mengeksplorasi kemampuan Anda.

      Tips lain jika saudara Che-che dicemburui oleh rekan kerja yg mungkin bisa membantu :

      1. Jalin komunikasi

      Cobalah mendekatkan diri dengan rekan kerja yang cemburu. “Sering kali kecemburuan muncul karena tidak adanya komunikasi antara yang cemburu dan dicemburui,” Karena itulah, bersikap baik dan menjalin hubungan akrab dengan rekan kerja yang lain, terutama yang cemburu, akan mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa cemburu. Jika hubungan sudah akrab dan menyenangkan, otomatis rasa cemburu akan segera hilang.

      2. Tak perlu meminta maaf

      Sangat manusiawi jika Anda merasa tak enak jika rekan kerja kecewa karena promosi diberikan kepada Anda. Tapi bukan berarti Anda harus meminta maaf kepadanya karena Anda yang mendapatkan promosi. “Jika Anda meminta maaf, itu malah akan menyakiti hatinya,”

      3. Munculkan kekuatan tim

      Jika promosi Anda menimbulkan beberapa gejolak, Anda tak perlu pusing. Lebih baik Anda menganalisa tim Anda agar setiap orang yang tergabung didalamnya bisa memberikan yang terbaik yang dimilikinya. “Jadikan mereka semua bintang. Dengan begitu orang akan melihat bahwa Anda layak mendapatkan jabatan baru tersebut “.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: