Beranda > Rubrik Pesona Wisata > Faktor Pendukung Ekowisata

Faktor Pendukung Ekowisata

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan JTTC kepada saya. Mohon penjelasan JTTC mengenai konsep pengembangan ekowisata dan pengaruhnya terhadap dampak lingkungan termasuk dampak pengembangan sarana, akomodasi pariwisata ?padahal kita semua tahu bahwa ekowisata itu sendiri saat ini banyak diminati oleh orang? Bagaimana hubungan ekowisata dengan masyarakat termasuk berbagai faktor yang dapat mendukung suksesnya ekowisata?.Yang Terakhir mohon informasi mengenai pelatihan pemandu wisata alam.

Rani S. (Yogyakarta)

Saudara Rani, Terima kasih atas pertanyan yang diajukan kepada kami. Kami mohon maaf beberapa pertanyaan Saudari kami edit untuk kami sesuaikan dengan besar ruang rubric kami. Kalau kita mencoba melihat kebelakang visi pengembangan pariwisata secara umum  lebih mengarah pada pengembangan pariwisata yang berbasiskan pada masyarakat (masyarakat local) dan tetap berwawasan lingkungan. Ekowisata mencoba mengakomodasi  kedua hal tersebut. Konsep pengembangan kepariwisataan yang berakar pada wisata alam dan aktifitas wisata dialam terbuka ini diharapkan mampu mendorong partisipasi masyarakat sekitar.

Memang benar, banyak pihak yang menaruh harapan terhadap pengembangan ekowisata termasuk pemerintah dan pelaku pariwisata itu sendiri. Selain dianggap cukup “menggiurkan” dan menjanjikan pendapatan yang cukup besar sehingga mendorong pendapatan daerah. Disisi lain kekhawatiran-kekhawatiran cukup besar terhadap tantangan-tantangan yang akan timbul. Dampak teoritis dari ekowisata cukup dikenal dan nyata yaitu biaya potensial yang harus dibayar adalah kerusakan lingkungan yang akan timbul. Selain itu juga akan muncul ketidakseimbangan dan ketidakstabilan ekonomi serta perubahan sosial budaya secara negatif. Meskipun dari sisi manfaat potensial yang akan diperoleh juga cukup besar yaitu diperolehnya dana untuk kawasan yang dilindungi, lapangan kerja untuk penduduk disekitar kawasan serta dapat mendorong pendidikan lingkungan dan kesadaran pelestarian.

Saat ini peluang pengembangan ekowisata didaerah ditunjang dengan pelaksanaan otonomi yang telah mulai diberlakukan sejak tahun 2000 termasuk diberlakukannya UU no 22 tahun 1999 dan UU no 25 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Secara ideal pengelolaan ekowisata diera otonomi ini tiap-tiap tingkatan memiliki peran yang berbeda dengan porsi yang cukup variatif namun secara mendasar peran daerah lebih dominan disini.

Saudari Rani, pengembangan ekowisata dapat optimal tergantung pada tiga faktor kunci yaitu faktor internal, eksternal dan structural. Faktor Internal antara lain meliputi potensi daerah , pengetahuan operator wisata (travel agent) tentang keadaan daerah baik budaya maupun alamnya serta pengetahuan tentang pelestarian lingkungan dan partisipasi penduduk lokal terhadap pengelolaan ekowisata. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar yang meliputi kesadaran wisatawan akan kelestarian lingkungan dan penduduk lokal. Adapun faktor struktural adalah faktor yang berkaitan dengan kelembagaan, kebijakan, perundangan dan peraturan tentang pengelolaan ekowisata baik di tingkat local, nasional maupun internasional.

Ketiga unsur tersebut haruslah diperhatikan secara cermat dalam mengembangkan kawasan ekowisata baik dari sisi perencanaan maupun dari sisi pengembangannya. Dengan potensi yang dimiliki, ekowisata akan menjadi primadona jika sistim pengelolaan yang dilakukan komprehensif dengan tetap berpedoman pada pelestarian lingkungan sekitar. Selain itu peran swasta cukup dibutuhkan sebagai kekuatan baru untuk  menerjemahkan konsep-konsep operasional ekowisata itu sendiri kedalam bentuk yang lebih nyata.

Untuk pengembangan ekowisata sendiri pun lebih mengarah pada pengembangan ekowisata yang berkelanjutan dari sisi produk dengan tetap memperhatikan pelestarian lingkungan sedangkan dari sisi SDM, diperlukan SDM yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan ekowisata. Berangkat dari sini diharapkan ekowisata tidak hanya menjadi primadona pariwisata namun juga menjadi bagian dalam pelestarian lingkungan

Saudari Rani, mengenai pelatihan yang akan dilaksanakan JTTC, dalam waktu dekat ini  akan diselenggarakan pelatihan pemandu wisata alam. Dari pelatihan ini diharapkan peserta mampu memahami prosedur dan teknik guiding khusus wisata alam, memahami objek wisata alam dikawasan Jogja dan sekitarnya, menguasai teknik mempresentasikan obyek wisata kepada tamu, dan mempraktekkan prosedur guiding di lapangan. Kegiatan ini akan diselenggarakan selama 1 bulan mulai tanggal  13 Agustus 2004 sampai dengan  10 September 2004 setiap hari  Selasa dan Jum’at  pukul 18.30 WIB s.d 20.30 WIB. Infromasi lebih lanjut dapat menghubungi JTTC setiap hari jam kerja.(IR/JTTC)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: