Beranda > Artikel Pariwisata > Teror Bom Hantui Dunia Pariwisata

Teror Bom Hantui Dunia Pariwisata

Sejumlah kalangan meramalkan penurunan omset dan pemasukan di sektor pariwisata, menyusul teror bom ‘Marriott 2’. Ini masuk akal karena stabilitas keamanan Indonesia yang terkoyak akan berpengaruh terhadap kenyamanan masyarakat.Johnnie Sugiarto, bendahara Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) meyakini, bom bunuh diri yang terjadi di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton akan menurunkan pendapatan industri hotel domestik. “Melihat pengalaman sebelumnya, yaitu bom Bali dan Marriott 1, kali ini pasti juga sama,” katanya.
Menurut dia, teror ini akan berdampak pada omset sekitar enam bulan ke depan. Dalam jangka waktu tersebut, pendapatan industri hotel Indonesia diperkirakan turun sekitar 10% sampai 20%. “Kondisi tersebut diperkirakan baru akan pulih di akhir tahun 2009,” imbuhnya.
Ledakan bom tersebut dinilai Johnie sebagai promosi buruk bagi dunia internasional, yang akan menyebabkan banyak wisatawan asing membatalkan kedatangannya ke Indonesia. Minat kunjungan mereka ke negara kepulauan ini juga otomatis akan turun.
“Orang yang sudah punya rencana mengunjungi Indonesia bahkan akan membatalkannya dan mengubah tujuan ke Thailand, Malaysia, atau kemanalah,” ujarnya. Selain itu, terulangnya bom di Marriott itu juga dikhawatirkan akan diikuti dengan kemungkinan langkah kedua hotel Amerika tersebut hengkang dari Indonesia. “Peluangnya 50-50, mereka akan cabut. Ini bukan franchise, tapi investasi langsung. Sudah dua kali terjadi bom, mereka rasanya bisa mikir-mikir untuk cabut,” jelasnya.

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Ben Sukma Harahap mengatakan, dampak yang paling nyata dari teror bom ini adalah ancaman travel warning dari berbagai negara bagi masyarakatnya agar tidak berkunjung ke Indonesia. Jika banyak negara memberlakukan travel warning, maka banyak pula pihak yang dirugikan di Indonesia. “Terutama para pelaku usaha, agen-agen perjalanan, tempat-tempat wisata, dan pemerintah Indonesia,” katanya. Ben pun mengaku harus terus melakukan koordinasi dengan agen perjalanan, baik di dalam maupun luar negeri, untuk mengetahui dampak riil dari teror bom kali ini. “Dampak riil belum bisa diketahui. Yang jelas kami terus berupaya melakukan pendataan dampak dari kejadian ini,” katanya.

Penurunan juga dirasakan oleh kalangan industri penerbangan. Jumlah penumpang asing PT Garuda Indonesia dengan tujuan Jakarta, langsung turun kurang dari 5% sehari pasca ledakan bom. Hal ini karena banyak calon penumpang yang membatalkan tiketnya. “Banyak calon penumpang yang langsung membatalkan tiketnya. Jumlahnya masih di bawah 5%. Ini hanya untuk Jakarta. Untuk tempat-tempat lain di Indonesia, tidak ada masalah,” ujar Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar.
Namun, Emirsyah memastikan pihaknya akan terus memantau perilaku penumpang sepekan mendatang, karena saat itulah baru terlihat dampaknya terhadap jumlah penumpang keseluruhan. “Intinya, kita sebagai airline harus lakukan antisipasi,” katanya. “Lebih jelas fluktuasinya kita akan lihat dalam seminggu ini.” Emir berharap,teror bom tersebut tidak akan memicu banyak negara mengeluarkan travel warning ke Indonesia. Kalau itu terjadi, maka dampaknya akan sangat besar. “Selain industri penerbangan, industri pariwisata juga akan mengalami dampak yang signifikan,” pungkasnya.

Sementara Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Jero Wacik mengatakan, tidak ada eksodus wisman dari Indonesia pasca ledakan bom di Mega Kuningan. Hal itu diungkapkan berdasarkan hasil pengecekan di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dan Ngurah Rai Bali. “Setelah di cek ke sana, tidak terlihat adanya eksodus wisman. Ini menunjukkan wisman tidak terlalu khawatir atas terjadinya aksi teror bom di Jakarta,” katan Jero Wacik di Jakarta, Sabtu (18/7). Jero Wacik mengakui, pengaruh teror bom terhadap rencana kunjungan wisman sudah terasa. Diawali dengan batalnya Tim Munchester United (MU) bermain di Jakarta serta travel warning yang dikeluarkan oleh Singapura dan Australia terhadap Jakarta.
“Namun, tindakan seperti ini sesuatu hal yang wajar. Dan menjadi tantangan bagi kita untuk bekerja keras dalam memulihkan kepercayaan dunia internasional,” katanya.
Insiden ini terjadi saat kondisi pariwisata Indonesia dalam posisi yang sangat baik, dengan tingkat hunian kamar hotel di Jakarta dan Bali mencapai 70% dan 80%. Selain itu tingkat kepercayaan wisatawan dunia terhadap Indonesia mulai tinggi dan semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir. “Kita harus bekerja keras untuk memulihkan kembali situasi tersebut,” katanya.
Sebelumnya, Sekjen World Tourism Organization (WTO) Thaleb Rivai optimsitis, pariwisata Indonesia akan cepat pulih, mengingat Indonesia berpengalaman mengatasi dampak teror bom. WTO bahkan menunjuk Indonesia untuk berbagi pengalaman membuat crisis center dalam mengatasi dampak negatif bom Bali terhadap pariwisata.

Source : http://inilah.com/berita/ekonomi/2009/07/18/130117/teror-bom-hantui-dunia-pariwisata/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: