Beranda > Wisata Jogja > Oseng-oseng Mercon, Rasa Pedasnya Bikin Ketagihan_

Oseng-oseng Mercon, Rasa Pedasnya Bikin Ketagihan_

Keringat yang bercucuran di sekujur badan akibat rasa pedas cabai merah konon menyehatkan tubuh. Tapi, harap hati-hati. Kalau tak tahan dengan rasa pedas jangan coba-coba oseng-oseng mercon. Bisa-bisa perut Anda jadi mulas dan lebih sering ke kamar belakang.
Mercon Dioseng-oseng
Dilihat dari performanya oseng-oseng mercon mungkin sama sekali kurang menarik. Terutama karena hidangan ini hanya terdiri dari potongan kecil-kecil kikil, gajih, dan kulit sapi, berkuah sedikit dengan irisan cabai merah di sana-sini. Kalau kita diamkan hidangan itu sebentar saja, pasti akan ngendal, kental karena minyak beku dari gajih-gajih itu. Tapi coba kita buang tampilan yang serba apa adanya itu. Sekarang pesan lalu rasakan. Anda pasti akan kelimpungan, bukan hanya karena pedasnya tapi juga rasa masakannya yang mantap, lezat, dan mengundang selera. Nyatanya bukan sekali saja kami mencobanya. Berkali-kali, bahkan walau salah seorang teman kami menyatakan kapok tak berdaya karena kepedasan.

Maklum, salah satu masakan favorit di Jogja itu selalu mencampuri cabai rawit merah sampai 4 kilogram setiap kali masak untuk 25 – 30 kilogram kikil. Selain berbumbu bawang merah, bawang putih, jahe, dan lengkuas, cabai rawit menjadi bumbu penting oseng-oseng mercon itu. Bumbu-bumbu tersebut dijadikan satu, digoreng, lalu dicampur dengan kikil, gajih, dan kulit sapi, orang Jogja biasa menyebutnya koyoran.
Menurut Sunarti, pemilik warung oseng-oseng mercon, kelezatan masakannya karena cara mengolahnya. Semua bumbu digoreng, bukan digangsa (digoreng sangan). Selain itu, “Jangan pakai merica,” tuturnya. Merica memang sangat dihindarinya, karena justru akan mengubah rasa dan mengurangi selera pedas cabainya. “Yang namanya oseng-oseng ya, jangan pakai merica, tapi lombok rawit,” tambahnya.
Justru dengan memperbanyak cabai rawit merah, selain menjaga keaslian masakan, juga menggugah selera. Tidak tahu mengapa, banyak orang yang katanya sudah tak mau lagi menikmati oseng-oseng mercon gara-gara rasa pedasnya yang luar biasa itu. Tapi selalu saja mereka tetap kembali melahap pedasnya oseng-oseng mercon. “Rasa pedasnya mengundang selera,” tutur seorang pengunjung.
Bahkan tidak jarang mereka yang datang sering membuat permainan taruhan: siapa yang paling banyak dan tahan makan oseng-oseng mercon, itulah pemenangnya. Banyak yang penasaran dengan jenis permainan ini. Terbukti pengunjung pun tidak mau cepat-cepat beranjak dari tempat duduk lesehan itu sebelum mengganyang habis sajian pedas berselera itu.

Nama oseng-oseng mercon menurut Bu Narti atas pemberian budayawan Emha Ainun Najib. “Dia yang beri nama itu. Katanya, rasa pedasnya seperti mercon, he-he-he,” selorohnya. Nama-nama lain juga ada; oseng-oseng bledek, halilintar, atau nylekit. Sudah sejak 30 tahun lalu warung yang berada di Jl. KHA Dahlan (depan PP Muhammadiyah lama) itu ada.
Penasaran dengan rasa pedasnya yang ngangeni? Silakan coba. Hanya saja, siapkan handuk kalau-kalau keringat yang mengucur kelewat deras. Huhah, huhah…

Source : http://kabare.jogja.com/?a=VnF5L0ZlWjNWRi9JblVkUmhOIHk%3D=
Doc. Source : http://i145.photobucket.com/albums/r223/teguh70/Oseng.jpg

Kategori:Wisata Jogja
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: