Beranda > Tak Berkategori > Sentuhan Kemanusiaan di Rumah Sakit LohGuanLye

Sentuhan Kemanusiaan di Rumah Sakit LohGuanLye

SAAT saya berkunjung ke Rumah Sakit LohGuanLye, Penang, Malaysia, Kamis (24/10) lalu, dari jauh terlihat sejumlah orang sedang berbincang sesamanya. Setelah agak dekat, sayup-sayup saya dengar percakapan mereka. Bahasa yang mereka gunakan tak asing di telinga saya. Lalu saya hampiri mereka. Yeah, ternyata mereka berbincang dalam bahasa Aceh! Kelompok kecil ini terdiri atas seorang kakek dan nenek, sepasang suami istri yang relatif muda dengan seorang anak kecil yang duduk di pangkuan sang istri. Saya pun memperkenalkan diri. Pria tertua dalam kelompok ini menyebut namanya Husin. “Kami berasal dari Kota Juang, Bireuen,” ucapnya. Saya senang bertemu sesama orang Aceh di Penang. Husin datang ke Rumah Sakit LohGuanLye untuk membawa cucu semata wayangnya berobat. “Cucu saya sudah tak mampu lagi berjalan,” katanya lirih.

Cucunya itu berumur 2,5 tahun. Diawali demam tinggi, tiba-tiba sang cucu tak bisa lagi berjalan. Lalu ia bawa cucunya itu ke rumah sakit terdekat. Jawaban dokter tentang penyebab kelumpuhan itu tidak otomatis membuat Husin yakin. Apalagi sang dokter merujuk pasien tersebut ke Medan, Sumatera Utara.

Tapi Husin mendapat saran dari teman dekatnya, anggota IDI, untuk membawa cucunya berobat ke Rumah Sakit LohGuanLye di Penang. Saran itu ia terima.

“Sesampai di sini langsung dilakukan pemeriksaan awal. Dokter menyarankan kami untuk pemeriksaan lebih lanjut, yaitu pemeriksaan saraf belakang, tulang punggung belakang, dan pemeriksaan kaki,” kata Husin.

Dokter memberi tahu Husin bahwa pemeriksaan cucunya menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI), sebagai tindak lanjut pemeriksaan awal menggunakan CT-scan. Begitupun, dokter tetap memberikan pilihan, tidak memaksakan kehendak harus pakai MRI. “Jadi, pemeriksaannya berdasarkan persetujuan dan pilihan kita,” ucapnya.

Inilah yang membuat ia merasa senang dan nyaman berobat ke Penang. Husin pun tak peduli seberapa besar biaya perjalanan satu keluarga yang ia keluarkan dari Aceh. “Yang penting, di sini saya mendapatkan kenyaman dan kejelasan atas penyakit yang diderita cucu saya,” ujarnya.

 Warisan keluarga
LohGuanLye merupakan rumah sakit warisan sebuah keluarga. Namanya diambil dari orang pertama yang mendirikan runah sakit itu, Loh Guan Lye. Saat ini diurus oleh generasi kedua dan ketiga dari keturunan Loh Guan Lye.

Meski rumah sakit ini selalu mengadopsi teknologi tercanggih untuk peningkatan kualitas pelayanannya, tapi tidak semata-mata itu yang mereka banggakan. Hal terpenting bagi mereka, termasuk para dokter maupun staf lainnya, adalah profesionalisme.

Selain itu, sentuhan kemanusiaan tampak jelas di sini. Manajemen rumah sakit ini selalu memperlakukan pasien dengan penuh kasih sayang. Ini komitmen utama mereka agar pasien tetap betah berobat dan dirawat di LohGuanLye Hospital.

Tak ada kompromi atau pilih kasih. Pasien lokal maupun luar selalu mendapat perlakuan yang sama. Menurut Ratna, pemandu kami dalam kunjungan ini, sebanyak 30 persen warga asing, termasuk pasien dari Aceh, berobat ke rumah sakit ini setiap bulannya. “Kalau tiap bulan ada 1.000 bahkan 2.000 pasien, 30 persennya merupakan warga asing, seperti Aceh,” kata Ratna.

 Antar jemput
Saat kami berada di rumah sakit ini, kehangatan dan keakraban ditunjukkan oleh bagian personal costumer service di International Desk. Tak hanya terhadap kami selaku insan media, tapi mereka juga dengan sabar dan ramah menuntun dan melayani pasien yang merupakan warga asing.

Menariknya lagi, rumah sakit ini juga menyediakan jasa antar jemput langsung ke bandara. Pelayanan ekstra ini menambah ketertarikan pasien dari luar Penang berobat ke sini.

Para perawatnya pun dengan penuh dedikasi melayani pasien. Pengetahuan dan wawasan mereka patut diacungi jempol. Sekilas hampir menyamai dokter. Mereka tak hanya bertugas mengganti cairan infus atau menyuntik pasien dengan obat-obatan yang diresepkan dokter, tapi mereka juga ibarat dokter yang menyugesti pasien dengan wawasan plus yang mereka miliki. Sekilas bak curahan kasih seorang ibu dalam menjaga bayinya. Ada sentuhan kemanusiaan yang amat mengesankan di sini.

Semua kelebihan dan keikhlasan dalam mengabdi itu sungguh menjadi “obat spesial” bagi pasien. Lalu tak bisakah paramedis kita di Aceh berlaku seprofesional itu? (masyitah rivani)

Kategori:Tak Berkategori
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: